Sabtu, 12 Oktober 2013

Generasi baru : Generasi Penuh Kebersamaan

Selamat siang semuanya!
Sebelum saya jabarkan artikel sederhana yang berbau nasionalisme kali ini, saya ingin menginformasikan bahwa artikel ini tidak hanya diperuntukkan untuk rekan-rekan sekalian, teteapi juga ikut dilombakan dalam ajang Lomba Menulis di Blog "Generasi Muda Indonesia Menjawab Tantangan Masa Depan" (http://lomenulis.com/post/70080506896/lomba-menulis-di-blog-generasi-muda-indonesia-menjawab)

Seperti yang telah diinstruksikan pada link diatas, terlebih dahulu akan saya cantumkan mengenai biodata diri saya sebagai peserta lomba.

BIODATA DIRI

Nama Lengkap                 :               Rizky Zulkarnaen
Jenis Kelamin                    :               Laki-laki
Tempat Lahir                    :               Jakarta
Tanggal Lahir                    :               1 Maret 1996
Asal Sekolah                    :               SMA Negeri 2 Bogor
Kelas                               :               XII IPA I
Alamat Sekolah                :               Jl. Kranji Ujung 1 Budi Agung - Bogor-16310
Telepon Sekolah              :               Telp. 0251-8318761  Fax. 0251-8318761
Alamat rumah                  :               Gg. H. Minggu RT 05/02, Desa Pemagarsari,Kec. Parung, Kab. Bogor
Handphone                     :                085775537080        
Kategori lomba               :                Kategori 2 (Pelajar tingkat SLTA)


Generasi baru : Generasi Penuh Kebersamaan
(Generasi Muda Indonesia Menjawab Tantangan Masa Depan)

"Indonesia akan terus tumbuh menjadi bangsa besar. Itu karena kita punya banyak putera-puteri Indonesia berkemampuan unggul"

Kira kira seperti itulah kicauan pak Presiden SBY beberapa pekan lalu. Sebuah ungkapan sederhana yang mampu mencitrakan berjuta kebanggaannya terhadap apa yang telah dicapai oleh muda-mudi Indonesia di kancah nasional maupun internasional. Ada banyak sekali generasi muda Indonesia yang memang terbukti prestasinya dimata dunia.

Tidak hanya prestasi dalam bidang olahraga, dalam bidang akademik pun Indonesia tak mau kalah. Pelaksanaan olimpiade fisika, matematik, astronomi, kebumian, selalu mencantumkan nama Indonesia pada daftar negara kelas atas yang selalu diprediksi memborong logam medali bersama dengan China dan Finlandia. Begitu mengharukan apabila kita tanya pada mereka apa yang menjadi alasan mereka rela mengorbankan jiwa raganya, melakukan hal yang luar biasa, hanya untuk menjadi seorang juara. Ingin rasanya air mata ini menetes ketika mereka mengatakan, "Aku ingin mengharumkan nama Indonesia. Aku ingin membuktikan bahwa ibuku melahirkan seorang pejuang. Aku boleh saja kalah. Tapi untuk memperjuangkan Indonesiaku, aku tidak akan sekalipun memilih mundur.."

Kenyataannya, mereka yang menjadi juara adalah mereka yang berjuang mati-matian. Mereka yang juara adalah mereka yang mampu melewati batas kemampuan mereka. Mereka yang menjadi juara adalah mereka yang menangis dalam solatnya. Mereka yang menjadi juara adalah mereka yang mau bangkit!



Namun apakah benar dengan kemampuan dan pemikiran seperti itu, generasi kita mampu menjawab tantangan masa depan, seperti tema yang telah panitia lomba menulis artikel ini pinta? 

Mari sejenak berhenti berbincang mengenai apakah generasi ini mampu atau tidak menjawab tantangan masa depan dan kembali terlebih dahulu menengok apa yang sedang terjadi pada generasi ini. Sedikit kita tengok ke kiri dan ke kanan maka kita akan berkata.. "Hmm.. Tapi yaa inilah Indonesia. Prestasi, kebanggaan, pencapaian di negara ini seakan selalu diiringi oleh keterpurukan. Krisis ekonomi, kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme seakan sudah menjadi budaya. Tawuran, vandalisme dan degradasi moral melanda anak muda. 1001 masalah besar masih menggerogoti negara ini."

Sebenarnya sulit sekali mengartikan apabila ada sebuah ungkapan bahwa Indonesia adalah negara yang begitu dicintai oleh rakyatnya. Karena akan banyak sekali timbul pro-kontra tentang Indonesiaku. Kalo kita coba tuliskan seberapa buruk Indonesia, satu buku ensiklopedia pun belum tentu cukup. Keyboard qwerty paling mutakhir juga tidak akan mampu untuk menjabarkan blangsaknya Indonesia. Indonesia memang negara yang buruk. Dan harus kita akui itu.


Petinggi-petinggi yang harusnya menjadi teladan, malah korupsi. Pemimpin wakil rakyat yang harusnya membawa suara rakyat, malah moloor di ruang rapat/sidang. Produk impor yang harusnya dijadikan kebutuhan tambahan, sudah menjadi kebutuhan pokok.

Adalagi mahasiswanya yang hanya mementingkan IPK agar kelak jadi kacung di perusahaan-perusahaan asing, pelajarnya yang tak pernah bisa sadar akan pentingnya nasionalisme dan patriotisme dan masih banyak lagi. Miris.

Mungkin apabila kenyataannya adalah seperti yang baru saja kita bahas, sulit rasanya untuk menjawab apakah generasi kita mampu menjawab tantangan masa depan. Semua orang pun tahu, bahwa sepintar apapun suatu generasi dalam membangun bangsa namun terlihat jelas pula kebobrokan karakternya, maka tunggulah kehancuran dari bangsa tersebut. Hal ini sama halnya dengan pernyataan bahwa state building (pembangunan negara) itu juga harus diimbangi dengan nation building (pendidikan karakter).

Tapi cobalah kita tarik satu pokok masalah yang memang benar benar bisa membuat perubahan dan juga perbedaan. Sejenak kita berpikir dan merenung, menanamkan dalam hati "Perlu gak sih kita ungkit ungkit terus kebobrokan mereka yang gak malu KKN di negara sendiri? Perlu gak sih lagi-lagi kita bahas kejelekan Indonesia? Perlu gak kita ngurusin, nyela, mereka yg telah sekian banyak membuat onar? Apakah itu yang kita butuhkan?"

Sadarilah teman teman, yang paling kita butuhkan sekarang adalah generasi baru. Lebih tepatnya generasi baru yang membawa perubahan. Kenapa generasi baru? Karena masalah yang ada di negeri ini tidak akan pernah bisa berhenti apabila generasi penerusnya yang tidak berniat untuk menghentikan. Karena generasi barulah yang akan mewarisi amanat-amanat bangsa. Karena generasi barulah generasi yang bisa belajar dari pengalaman generasi yang sebelumnya. Dan karena generasi barulah yang akan bersiap-siap untuk menjawab tantangan masa depan.

Lantas, siapakah generasi baru tersebut? Kita! Ya, kita muda-mudi Indonesia. Kenapa kita? Karena hanya kitalah yang dapat memperbaiki semua kekacauan. Apakah kita sudah siap dan pantas? Karena untuk menjadi generasi baru yang benar benar 'baru' tidaklah mudah.

Ketahuilah, ini akan terasa sangat menyakitkan kelak menjadi generasi baru. Akan sangat menyakitkan ketika kita gak bisa lagi korupsi seperti mereka yang ada diatas kita. Akan menyakitkan saat kita harus jujur. Ini akan sangat menyakitkan saat kita harus bekerja siang dan malam padahal dulu diatas kita bekerja tak seberat apa yang kita lakukan. Ini akan sangat menyakitkan saat kita harus bertindak 'benar', dan meninggalkan, menjauhi kenikmatan-kenikmatan yang sebenarnya bisa saja kita ambil seperti apa yang dilakukan diatas kita dulu.

Ini akan terasa tidak adil saat kita memberikan penghargaan luar biasa terhadap mereka yang memiliki prestasi gemilang padahal dulu kita yang berprestasi tidak pernah dipedulikan. Akan terasa tidak adil kalau kita harus mengalahkan ego diri kita sendiri dan menjadikan masalah bersama menjadi prioritas. So, sangat sulit dan tidak adil kalau kita harus berubah dan ikut serta menjadi generasi baru. Ya kan?

Dari uraian diatas bisa disimpulkan bahwa harga untuk menjadi generasi baru tidaklah murah. Dibutuhkan sejuta pengorbanan untuk kata perubahan. Berkorban materi, waktu, bahkan perasaan. Dan sialnya, hanya dengan perubahan, bangsa kita bisa makmur dan sejahtera.

Tapi coba kita pikir dan bandingkan sejenak.. Kalau kita kembali ke paragraf awal, disitu disebutkan bahwa Indonesia memang benar memiliki generasi/orang-orang yang mau berkorban melakukan perubahan. Yang menjadi masalah adalah, ada berapa banyak? Karena apabila hanya segelintir orang dari 240 juta orang Indonesia yang mau berkorban, maka hasilnya akan sama saja. Sama seperti kata pak Harto dulu, "keberhasilan pangan tidak akan banyak berarti apabila jumlah penduduk terus bertambah." Kaitannya dengan kasus ini adalah, keberhasilan yang diciptakan orang Indonesia untuk Indonesia tidak akan berdampak apa-apa apabila jumlah orang yang tidak peduli dengan Indonesia juga bertambah.

Teman-teman, akhirnya kita temukan apa yang kita butuhkan. Kebersamaan dan kepedulian. Kebersamaaan dan kepedulian yang lahir pada generasi yang baru. Kekompakkan dari segala bidang yang ada. Bukankah kemerdekaan ini direbut dengan kebersamaan? Kala itu seluruh orang yang ada dipelosok Indonesia menginginkan kemerdekaan dan itu tercapai!

So guys if we started it as a family, so we will finish it as a family!

Sekarang bayangkan. Apabila ke-240 juta orang Indonesia peduli dengan masa depan bangsanya. Bayangkan apabila ke-240 juta orang Indonesia memiliki semangat layaknya seorang pejuang yang menginginkan kemerdekaan. Undescribeable..

Kala itu, kita pernah digetarkan dengan kemenangan timnas U-19 melawan Korea. Menangislah dan pecahlah kala itu suasana distadion Gelora Bung Karno saat wasit meniup peluit panjang. Mereka adalah generasi baru yang dengan kebersamaannya mampu kalap menggelagak bagai Garuda haus akan kemenangan. Mereka menginspirasi kita bahwa Indonesia bukanlah negara bawahan dan kita dapat terus berubah menjadi lebih baik. Mereka membuktikan bahwa perjuangan para pahlawan memerdekakan Indonesia kala itu bukanlah hal yang sia-sia. Mereka telah jatuh cinta dengan tanah air mereka sendiri. Mereka seakan tak pernah perduli bahwa sebobrok apapun negara mereka, itu tetap menjadi negara mereka!

Jadi tunggu apalagi kawan-kawan. Terus sebarkan semangat persatuan dan kesatuan keseluruh pelosok tanah air. Karna orang yang bisa menolong Indonesia adalah orang-orang Indonesia itu sendiri. Jangan berharap merdeka apabila sakit sedikit saja sudah mengeluh, jangan berharap menjadi negara maju apabila belum mencintai negara sendiri.

Ayooo kita ciptakan generasi yang baru! Indonesia boleh jatuh kemarin dan saat ini. Tapi hari esok, aku dan kamu yang merubah!!!


 






Selasa, 09 Juli 2013

Rejected

"...Excuse me. I'm sorry, I'm sorry everybody.
Can I.. Can I just get your attention for one minute?
Um, yeah.. I'll be taking a questions in a minute..."

"Okay.. here we go.
Um, hey.. Just show of hands, how many people applied to other  college? .... Everybody, yeah. And, how many of you got into the other places you applied to? .... Hmm... Nobody. Nobody got in anywhere else."

"Hey, you know what? I didn't either. I didn't get into a real college. I didn't get into a really really good college."

"I know what it's like to be rejected, it sucks. Rejection blows!! Being said NO to. You played tennis, basketball (or may be your own hobby), you studied hard enough, you sacrificed your time and money, but finally you're not gona make it. It is really dissapointed when your parrents said they were still proud of you when actually you got nothing."

--


Oke. Itu tadi cuma sekedar intermezzo aja kawan kawan yang gua ambil dari salah satu percakapan responden, ya.. mereka adalah beberapa anak yang baru aja lulus SMA tapi gak keterima di universitas manapun. Hmm.... sabar ya bro. Hidup ini emang keras!

Dan itu berarti, dia menunjukkan bahwa dirinya..


DITOLAK! 
*suara petir menggelegar*

Hmm, satu kata yang bisa ngebuat hidup kita berubah 720 derajat. Ya gak sih? Satu kata yang menurut gua kenapa sih harus ada? Saat kita udah berjuang mati-matian untuk ngeraih mimpi dan target, tapi ternyata akhirnya tuh sia-sia. Rasanya tuh kaya nangis, jerit jerit, nyakar nyakar, tapi cuma bisa didalem hati aja. Kenyataan yang buat kita berpikir, kenapa sih gak ada satu ruang/satu posisi/satu bangku aja yang bisa bikin gua nyelip disitu? Satu aja! Itu kan ga akan pernah berpengaruh apapun? Toh ketika gua ada disana, gua bakalan bener bener dan ga bakalan ngecewain siapapun. KENAPAAA???!!!! *jungkirbalikin meja komputer*

Ada orang yang bilang, orang sukses itu juga banyak banget gagalnya. Orang sukses itu sering banget disamperin sama yang namanya penolakan. Tapi, apakah berarti setelah gagal kita akan menemukan jalan seperti mereka yang akhirnya sukses? Iya? Semuanya bilang jangan pernah menyerah, suatu saat pasti kita bakalan dapetin petunjuk atau jalan yang terbaik. Tapi KAPAN?!!! *nyekek ade sendiri*

*sigh*

Oke cukup galau nya. Komputer udah ancur dan ade gua juga udah sesek napas.

Tapi, kalo mau ngomongin yang namanya penolakan/kegagalan yaa itu semua tergantung gimana kitanya, ya gak? Ada yang ketika ditolak, kerjaannya galau terus sampe akhirnya malah nyusahin orangtua jadi pengangguran. Ada yang coba usaha minta bantuan temen biar dapet kerjaan trus naikkin skill dikit dikit biar bisa naik pangkat. Ada juga yang gak berhenti belajar dan berkembang berharap bisa ngelamar pekerjaan yang dia pengen, atau mungkin ada yang abis ditolak jadi makin kece kaya gue, dan banyak lagi.

Dari kejadian-kejadian diatas, gua bisa nyimpulin kalo penolakan/keadaan yang menimpa kita sekarang itu cuma berpengaruh 10% terhadap kehidupan kita. Selanjutnya, kita yang menentukan. Asal mau berusaha dan terus cari peluang aja tipsnya.

Gak percaya? Pernah denger cerita tentang 3 orang pegawai yang di PHK sama bosnya?

Ini dia ceritanya..

Ada 3 orang pegawai yang kena PHK sama bosnya gara gara ada krisis diperusahaan yang ngebuat bosnya (dengan terpaksa) mengurangi jumlah pegawai. Setelah di PHK, masing-masing dari pegawai dikasih uang PHK gitu sebanyak 10 juta.


Pegawai pertama, setelah di PHK dia stres berat, depresi abis coyyy!! Akhirnya dia mutusin buat ngabisin 10 jutanya dengan cara beli minum-minuman keras sama obat-obatan terlarang gitu, berharap stresnya ilang. Setelah dia puas (karna udah abis juga duitnya) dia pulang naik motor dalam keadaan mabok. Diperjalanan tanpa sadar (euforia alias ngefly) dia nabrak bis pusaka dan akhirnya meninggal dunia. Tamat!

Pegawai kedua, setelah di PHK dia dendam bro sama bosnya. Kenapa harus dia yang kena PHK? Padahal ada temen temen dia yang juga jabatannya sama tapi enggak di PHK. Akhirnya dia mutusin untuk menggunakan uang 10 jutanya buat nyewa bodyguard alias killer payment (pembunuh bayaran) buat ngebunuh si bosnya. hahahaha *oke cukup*. Misi pun di laksanakan.. bosnya pun berhasil dibunuh. 1 minggu kemudian polisi menyelidiki dan akhirnya mengetahui siapa yang menjadi pelaku pembunuhan tersebut. Pegawai 2 tertangkap dan akhirnya dipenjara selama 15 tahun. Tamat!

Pegawai ketiga, setelah di PHK dia mencari peluang, berusaha agar dia bisa tetap hidup walaupun tidak menjadi seorang pegawai. Akhirnya dia memutuskan untuk menghabiskan uang 10 jutanya utk berwirausaha. *jeng jeng* Dia memulai usahanya dengan membangun sebuah toko kecil didepan rumahnya. Dari situ usahanya berkembang dan sekarang telah memiliki 20 agen pendistribusi kebutuhan-kebutuhan pokok. Hmmm... kece ya?

That's it! Gak salah dong kalo gua bilang, apapun yang menimpa kita hari ini, hanya berpengaruh 10% terhadap kehidupan kita kedepan. Gak salah dong kalo kedepannya itu, kita yang menentukan?

Mungkin, posisi kita jauh beda sama 3 pegawai tadi. Atau mungkin sama sekali gak ada hubungannya. Tapi pada hakikatnya sama aja kan? asal kita gak manja dan mau usaha untuk terus cari peluang, pasti dapet kok :-)

Forget the past! Forget the failure! Nobody can go back and make a new begining, but everybody can start now and make a new ending.

Bukankah seekor burung baru bisa terbang setelah dia menjatuhkan dirinya terlebih dahulu?


"You can't fly unless you let yourself fall - Justin Bieber"

Senin, 01 Juli 2013

The Truth


Siapa disini yang ingin membela kebenaran?

Pertanyaan yang seharusnya gak perlu jawaban. Kenapa? Karena tanpa lu tanya pun, kita semua udah tau jawabannya. Sama halnya ketika lu ditanya, mau masuk surga atau neraka? Sejahat apapun seorang penjahat, ketika ditanya akan hal itu maka mereka pasti jawab surga.

Cuma, konteks yang pengen gua bahas kali ini lain. Bukan tentang surga, atau neraka. Kita akan membahas sesuatu yg lumayan rumit yang sebenernya tanpa sadar selalu kita temui dikehidupan sehari-hari. Kita akan mempelajari apa arti dari sebuah kebenaran. *jeng jeng jeng*

Pasti semuanya angkat tangan bilang 'GUA' pas gua sodorin pertanyaan yang paling atas. Tapi coba kita tambahkan sedikit 'rasa' dalam pertanyaan itu agar lebih menantang. Bagaimana kalo "Siapa disini yang akan tetap membela kebenaran walaupun sama sekali gak ada yg ngedukung?" atau mungkin, "Siapa disini yang akan tetap membela kebenaran walaupun dengan cara yang salah?" atau juga, "Siapa disini yang akan tetap membela kebenaran walaupun sebenernya sama sekali gak punya hak untuk ikut campur?"

Untuk orang orang yang kurang kuat pendiriannya, mungkin akan ragu untuk tetep bilang "GUA" karena emang gak mau kena masalah. Mereka lebih seneng untuk berada dizona aman dan santai mereka.. Mereka cenderung rendah diri dan bukan tipe orang yang mau jadi jagoan atau ngerasa orang yang paling bener.


Gak ada yang salah sih dengan tipe orang yang kaya barusan. Tapi mungkin, gua punya beberapa tips bagi orang-orang yang teguh pendiriannya tetep bilang "GUA bakalan tetep memebela kebenaran gimanapun situasinya!"

Tapi sebelumnya kita harus menanamkan, meresapi, dan merasakan terlebih dahulu kata kuncinya. Ini dia ....

"Gua gak pernah takut kalo hal yang gua lakuin itu bener!"

Udah dibaca?

Dipahami?

Sekali lagi deh, "Gua gak pernah takut kalo hal yang gua lakuin itu bener!"

Diresapi udahh?

Dirasakan...???

Okesip! Nah.. ini dia.
Untuk memperjuangkan apa yang menurut kita benar itu gak mudah. Untuk memahami bahwa sesuatu yang kita lakukan itu benar jg susah. Kecuali kalo elu liat ibu-ibu dijambret trus jambretnya lu kejar, lu tangkep dan akhirnya lu bawa ke kantor polisi, itu jelas kalo elu melakukan hal yang benar. Gimana kalo misalnya elu yang jadi polisinya sekarang trus jambret yang tadi ditangkep itu ternyata bokaplu? Apakah elu akan tetap membela kebenaran? Ga ada yang tau.

Terkadang situasi emang menyulitkan kita untuk "stay do the right thing". Tapi akan gua jabarkan bahwa sebenarnya ada kok orang orang yang konsisten membela kebenaran gimanapun situasinya. Karena mereka sudah memahami, meresapi, dan merasakan 'kata kunci' yang belum lama kita baca.

Seperti :

1. Orang yang tetep membela kebenaran walaupun gak ada yang dukung.
Nabi Muhammad salah satu contohnya. Ketika beliau diangkat menjadi seorang rasul, hampir seluruh kaum yang ada diwilayahnya menentang ajarannya. Sama sekali gak ada yang dukung. Sampe-sampe petinggi dan pejabat-pejabat disana ngerasa risih sama beliau yg akhirnya ngajak berunding. Pejabat2 itu bilang "Hey Muhammad, sebenarnya apa yang kamu inginkan? Harta, kekuasaan, wanita? Kami bisa saja mengabulkan semuanya untukmu asal kamu berhenti untuk melakukan dakwah ajaranmu, sok membereskan akhlak akhlak kami." dengan lembut beliau menjawab, "wahai paman. sekalipun kau meletakkan bulan ditangan kiriku dan matahari ditangan kananku, sungguh aku tidak akan pernah berhenti berdakwah dan melakukan hal yang benar."

Luar biasa. Sudah ditawarkan kenikmatan yang begitu nyata menggiurkan, beliau tidak berhenti untuk membela kebenaran ditengah cacian dan makian orang-orang. Bahkan pernah dilempari batu, beling?
Tapi lihat dampaknya sekarang. Dengan keteguhannya, beliau mampu membuat separuh orang-orang dibumi ini mengikutinya. Dan itu semua karna beliau tidak pernah takut dengan apa-apa yang dianggapnya benar meskipun tak ada seorangpun yang memberikan dukungan.

2. Orang yang tetep membela kebenaran walaupun dengan cara yang salah.
Yang ini mungkin sering kita lakuin. Kaya : mutusin pacar dengan alasan pengen tobat/belajar (basi!), senior yg pengen buat juniornya respect dengan cara bullying, mencuri duit koruptor untuk beramal, nerobos lampu merah biar gak telat skolah, dll.

Sebenernya ini agak krusial dibanding tipe pembela kebenaran yang lainnya. Salah satu contoh kasusnya adalah kasusnya Bartleby Gein dalam film Accepted. Bayangin aja, dia mendirikan sebuah universitas secara illegal dengan cara menempati rumah sakit bekas sebagai kampusnya. Dia cuma pengen ada wadah bagi orang-orang yg gak keterima diuniversitas manapun tetep bisa ngembangin bakat dan kreativitasnya. Dan karna dia, dia berhasil menyelamatkan ratusan pengangguran yang ada dinegaranya. Tapi apakah dia melakukannya dengan hal yang benar?

Kita harus tau, bahwa banyak banget hal terburuk didunia ini terjadi atas niat yang baik dengan embel-embel membela kebenaran. Kita boleh aja melakukan hal benar dengan cara yang salah (menurut gue) asal, analisis dulu lebih dalam, benefit atau manfaat yang kita dapet itu jauh lebih besar daripada kerugian dari kesalahan yang kita perbuat apa ngga? Jangan sampe nanti kita malah bikin rugi diri sendiri apa lagi orang banyak. Inget kawan, kita itu dikasih pikiran dan hati sama Tuhan yang akan membuat kita lebih dewasa untuk menentukan keputusan yang kita ambil. So, use it!

3. Orang yang akan tetep membela kebenaran walaupun gak punya hak untuk ikut campur urusan orang.
Ini adalah tipe pembela kebenaran sejati. Hahahaha
Dia akan ngelakuin hal apa aja yang menurut dia bener dengan segala cara dalam segala situasi. Dia gak peduli dibilang sok tau, tukang ikut campur? Yang dia tau dia cuma pengen menegakkan keadilan. *prok prok prok*

Ini tipe paling mulia sekaligus paling beresiko. Apalagi hal yang dilakuin belom tentu bener. Bisa digebukin kayanya. Hahahahaha

Oke cukup. mungkin disini kalian pada bingung kenapa sih gua ganteng bgt? *ehh
Maksud gua, kalo kalian bingung dan pengen nanya gua, kenapa sih nulis nulis tulisan aneh kaya gini?

Hufftt....

Teman-teman..
Kita harus tau, kalo sebenernya dikiiiittt banget kebenaran yang ada didunia ini. Tapi ketika kita liat satu aja, kita tau kalo itu merupakan suatu kebenaran. Mau berapa banyak lagi kejahatan yang bakalan kita biarin menimpa anak cucu kita nanti kalo kita gak membela kebenaran sekarang?

Sob, sist.. Jangan pernah takut kalo apa yang lu lakuin adalah sesuatu yang benar. Karena orang orang besar itu lahir karna melakukan kebenaran, sekecil apapun itu.

Kehidupan ini cuma sekali kan? Tapi kalo lu lakuin itu dengan BENAR, sekali pun cukup.

Kalo bukan kita yang berani melakukan hal yang benar, siapa lagi?


Dan ketika kita selesai melakukan hal yang benar, let it loose.. You'll see the light!


Selasa, 11 Juni 2013

People Judge Something By It's Cover?

"People judge something by its cover"
Orang-orang menilai sesuatu itu dari covernya. Gak bisa dicoret, gak bisa dibantah karna emang itu kenyataannya. Orang bakalan nilai orang itu sukses kalo dia punya lamborgini. Orang bakalan nilai orang itu berpendidikan tinggi kalo bahasanya keren, orang bakalan bilang gua ganteng karna emang gua ganteng *ehh

Jadi kesimpulannya, orang itu bakalan menilai sesuatu itu sempurna kalo emang sesuatu itu terlihat sempurna. Apalagi yang pas namanya first look, first touch, first impression? Itu semua harus dibuat sesempurna mungkin kalo emang lu pengen dipandang sebagai seonggok daging yang berkualitas. Atau seenggaknya, elu punya bakat atau otak yang ga biasa. Lebih dari yang lainnya.

Trus gimana nasib nasib orang yang kaya gini :




Atau yang kaya gini :





Seakan mereka tuh ga akan pernah bisa keliatan sempurna didepan siapapun. Itu yang ngebuat mereka semakin menutup diri dan ga pede untuk memperbaiki diri mereka. Mereka percya akan hukum kesenjangan. Mereka sadar kalo mereka adalah kelompok yang kesenjangannya dibawah rata-rata.

Nah, setelah melakukan observasi dan menelaah pengalaman sendiri, ada beberapa tipe sifat dari orang-orang yang mereka pikir mereka adalah orang-orang yang 'kurang' ini. Diantaranya :

1. Orang yang selalu galau dengan kekurangannya.



Tipe ini, adalah tipe paling parah yang juga banyak dialamin orang-orang. Mereka galau kenapa muka mereka dibawah kkm, mereka galau kenapa nilai mereka jelek terus, mereka galau kenapa baju mereka kusam dan lecek, dan masih banyak lagi kasus lainnya. Mereka adalah orang-orang yang selalu ngerasa pengen bunuh diri saat ngeliat diri mereka sendiri dicermin. Tapi, jangan salah. Mereka juga punya kelebihan. Kelebihan dari orang ini adalah sifatnya yang gak sombong dan tau kalo dirinya punya kekurangan.

2. Orang yang cuek aja dengan kekurangannya.



Nah, tipe ini adalah tipe yang emang gak normal. Orang ini adalah orang yang selalu cuek kalo mukanya jelek, selalu cuek kalo badannya bau, cuek kalo mereka gembrot, cuek kalo beloon,  pokoknya nggak pernah peduli dengan kekurangan yang mereka punya. Orang ini adalah orang yang kalo ditanya kenapa cuek, mereka bakal jawab "idup idup gue, kenapa elu yang repot?" Hebatnya dari tipe ini adalah mereka bisa tetep pede tampil didepan siapapun dengan segala kekurangannya karna mereka cuek!


3. Orang yang berusaha untuk memperbaiki diri dari kekurangannya.
Sekilas, ini merupakan tipe yang paling bener diantara 2 tipe diatas. Kenapa? Karna orang ini adalah orang yang coba untuk nyisir biar rada cakep, orang yang nyoba pake cologne biar ga bau, orang yang nyoba belajar biar gak remedial, orang yang coba cari duit biar bisa tetep hidup. Mereka adalah tipe orang yang hobi untuk memodifikasi dirinya masing-masing untuk menjadi lebih baik. Tapi kenyataanya, banyak daripada tipe orang ini yang gak pernah puas dengan modifikasi yang mereka ciptakan. Mereka akan teteap merasa si A atau si B lebih ganteng atau lebih hebat karena ngerasa emang dirinya udah terlahir jelek.

Jadi, tipe orang jelek manakah anda? Hahahahaha

--

Ngga, gua bercanda kok.
Gua cuma mau ngasih tau kalo emang bener ga ada satu hal pun didunia ini yang sempurna. Mungkin, pada kenyataannya ada orang yang lebih sederhana, dan lebih banyak kekurangannya dibanding yang lain dan terkadang itu semua ngebuat kita risih dengan diri sendiri. Ya gak sih?

Tapi coba pikir deh.. Kita jelek, kita bodoh, kita gak guna, itukan menurut kita? Menurut orang lain? Belum tentu. Coba kita ambil hikmah dari ketiga tipe orang yang 'kurang' diatas lalu kita gabungkan. Kita boleh sedih kalo terlahir didunia ini dengan wajah pas-passan, otak bloon, kurang mampu. Tapi itu bukan alasan buat kita untuk berenti memperbaiki diri kita sehingga bisa jadi pribadi yang lebih baik. Dan yang paling penting, harus bisa pede meskipun punya banyak kekurangan.

Dan sebenrnya sih, gua ga nganjurin untuk merubah diri kita agar tampak sempurna kok. Karna Leonardo Da vinci (masih sodara) pernah bilang, "simplicity is the ultimate sophistication". Kesederhanaan adalah sebuah kesempurnaan.

Liat jokowi. Dia sederhana kan? Tapi coba pandang kualitas manusianya. Liat google. Tampilannya sederhana banget kan? Tapi itu yang paling banyak digunain dibanding mesin pencari yang lain. Kita harus tau, kalo sesuatu yang sederhana/jelek bukanlah sesuatu yang tidak berkualitas.

Bahkan, untuk sukses pun kita hanya perlu melakukan hal yang sederhana. TAPI, dengan pengembangan yang tanpa henti. Berhentilah jadi orang yang serba perfeksionis. Bentar bentar ngaca, bentar bentar komplain. Orang yang seperti itu ga akan bisa maju karna dia terlalu sibuk menciptakan dan menjaga kesempurnaannya. Bahkan sering juga mereka lupa untuk melakukan hal lain yang memang harus mereka lakukan.

Memang orang akan melihat kita jelek/buruk pada awalnya.
Selebihnya, kita yang menentukan!

Rabu, 13 Maret 2013

Harapan Sederhana Kakek

Kalau Allah menghendaki umur Kakek 25 tahun lagi itu urusan Allah. Kalau Allah menghendaki besok meninggal itu juga urusan Allah.

Hidup merasa tipis.. Penyakit Kakek, merasa berat.
Umur Kakek sudah 78 tahun. Kakek dilahirkan dari keluarga tidak mampu. Ceritanya selagi masih orok diambil oleh saudara buyut karena saudara buyut itu enggan punya anak, namanya Mak Dilem.

Namanya anak kecil hidup tidak seperti anak sekarang. Pakaian compang-camping bahkan sudah besar umur 6 tahun masih telanjang, karena waktu itu jaman penjajah dan anak kampung, susah pakaian. Sehingga laksana umur 6 tahun 1936 ingin jadi orang. Makan pagi sore tidak, makan pagi sore tidak. Makan seadanya, apakah itu bubur, apakah itu daun-daunan dari kebun, daun singkong dari sawah dan daun genjer. Adanya makanan hanya singkong, itupun kalau ada. Tidak seperti sekarang banyak roti dan lain-lain. Menderita terus sehingga 1942 yaitu jaman Jepang. Jaman itu banyak orang mati kelaparan, pakaian orang pakai karung. Kakek pada waktu itu cari hidup umur 7-8 tahun, cari daun pembungkus belanjaan bawa ke pasar, dijual atau ditukar dengan makanan. Dengan bahasa sekarang "gembel". Maklum jaman-jaman penjajah. Sekarang jaman modern sudah banyak barang impor dan produksi dalam negeri.

Maka dari itu anak, cucuku dan buyutku hidup jangan seperti Kakek, hidup jangan seperti Kakek, dengan kata lain "gembel". Jaman sekarang harus banyak belajar cari ilmu dunia dan akhirat untuk bekal hidup dihari tua. Alhamdulillah Allah melindungi sampai umur 78 tahun. Tahun 1942 hijrah ke Jakarta. Emak jadi pembantu rumah tangga, Kakk pesuruh dirumah China. berliku-liku hidup dijalani oleh Kakek.

Tahun 1952 kawin dengan Emak. Itu tidak kurang menderitanya mengurus anak dengan Emak, itu juga tidak kurang menderitanya. Mengurus anak, Kakek dan Emak supaya anak jangan seperti Kakek diatas.

Alhamdulillah 1974, Mimah sudah bekerja. Bantu Kaek dan Emak kasih makan adik dan pendidikannya. Alhamdulillah sekarang tidur tidak kebocoran dan tidak dingin lagi. Dulu atap rumah dari kirai dan pagar bilik bambu.











Untuk kalian, hikayat seharga tangan kanan Kakek




Rabu, 29 Agustus 2012

Stranded

All I hear is raindrops. Falling from the rooftop..
Same with the teardrops. Falling, looking for a reason

I didn't strong enough for you, as you want..
And now look only at me! An empty lonely ghostman
It doesnt mean i'll never get hurt

I thought that from this heartache
I could escape.

well, tell me why'd you have to go?
Cause this pain I feel it won't go away.
The pain i feel, never ever comparable to the regret that comes everyday when you're runaway

I knew something must have come and gone for sure
May be this is the time for you to go
but what struck me in such a great sick.. is the fact that your leaving could not go away from my mind
And would never go away. Baby, it stays on my mind

it feels like a cool breeze suddenly become a dry arid from looking at your face on the wall.

Well I thought I could just get over you baby
But I see that's something I just can't do
From the way you would hold me
To the sweet things you told me
I just can't find a way.. 

Just a couple days ago you were my baby
Now I don't even know you at all.. I don't know you at all

I wish that you would call me right now. So that I could get through to you somehow

But I know it cant be true cause..
You want go away while i wont you go away

What do you want hon, what?
Because im tired trying to figure it out.

Trust me, pain beats every regrets that comes everyday and even twice. far more painful for missing you.


Selasa, 10 Juli 2012

Melody Of Memory

Menangis. Mengapa semuanya harus diawali dengan tangisan? Ibuku bilang, teriakan tangisku sangat keras kala itu. Tanpa disadari, momen itulah yang ternyata membuat ibuku ikut menangis haru. Karena.. Setelah melalui proses yang sedemikian panjang, senang dalam penderitaan, mencicipi rasa sakit yang luar biasa, lahirlah seorang bocah lelaki yang sebenarnya tidak lucu ataupun tampan. Tapi itu semua sudah lebih dari cukup untuk membalas perjuangan hidup dan mati selama 9 bulan, bertarung melawan rasa sadisnya pegal linu di bagian pinggang.

Tidak jelas memang arti dari Rizky Zulkarnaen beserta asal usulnya. Orang tuaku hanya memberikan nama yang indah untukku dengan harapan serupa dengan akhlaknya kelak. Sepertinya itu merupakan sebuah harapan yang semestinya sudah tercapai, tetapi tanpa disadari kenyataan memberikan jawaban lain. Aku masih tetap dalam keangkuhanku, seekor angsa yang nakal, mempunyai beribu kemauan sembari berjalan di ambang dunia.

Pernah sekali ku berpikir, mengapa aku harus dilahirkan?
Jadi apakah?

Ayahku pernah bilang. Sekarang memang belum kau temukan jawabannya nak.. Hidup ini sama halnya dengan potongan-potongan puzzle. Terlebih dahulu kau harus mencari potongan yang hilang, setelah itu baru menyusunnya. Dan ketika semuanya tersusun, disitulah letak semua jawabanmu. Hanya saja, jarang orang orang cerdas didunia ini yang mau berpikir untuk menyusun potongan tersebut bahkan melanjutkannya.

Kata kata itu tetap saja tidak menolongku. Bahkan, malah memperbesar tanda tanya yang mengerumuni otakku. Haha, aku malas. Kenapa hidup ini malah menjadi teka teki?

Dilahirkan di Jakarta, 1 Maret 1996. Bertempat tinggal di Jakarta Pusat, Perumahan Kali Pasir, Gg Tembok yang tak ku ingat RT/RW nya. Seperti yang dunia ini ketahui, tak bisa kugambarkan betapa kumuhnya, padat, dan joroknya saluran air di perumahan rakyat Jakarta Pusat. Pergaulan yang tidak jelas seperti anak kecil mengamen dan menyemir sepatu di tiap sudut kota, remaja merokok melancong hingga larut malam, rok ketat + mini bagi kaum hawa, damainya narkoba, dan belum lagi tawuran dengan kampung sebrang. Buruknya, kusadari baru baru ini akan masa lalu tempat tinggal ku dulu.

Itu dari luar, belum dari dalam. Pertengkaran ayah dan ibu sudah merupakan teman minum kopi atau perasa teh di pagi hari. Ayah yang seorang emosional dan ibu yang tidak pengertian, kadang menambah parah suasana. Pernah sekali aku melihat ayah menghantam ibu dengan kepalan tangannya sendiri hingga darah membekas ditangannya. Tak ada yang bisa dilakukan oleh bocah berumur 5 tahun saat itu. Mungkin hanya menangis, berlari sekuat tenaga keluar dari rumah mencari tempat kosong lalu berteriak?

Hidup kami bisa dibilang sederhana. Walaupun dalam kenyataannya ayah yang dulu pengangguran dan beban keluarga hanya ditanggung ibu seorang. Tetapi Tuhan masih terus memberikan kasih sayangnya kepada kami walaupun tak lebih. Asal cukup itu pun sudah membuat ibu tersenyum bukan main manisnya."Yang penting masih bisa ketemu nasi" kalimat itulah yang sekarang masih saja membuatku menangis dalam solatku. Perkataan tulus yang hanya segelintir orang mau dan mampu mengucapkannya. Mana mungkin aku mau sengsara padahal kecenderunganku bermewah-mewahan? tapi ibu ajarkan aku kesederhanaan.. Ibu ajarkan aku arti bahagia sehingga mampu membuatku  tegar seperti ini.
 
--

Manisnya, setelah lulus TK ayah dan ibu memutuskan untuk pindah ke Bogor yang berakibat mengubah pola pikirku akan kehidupan. Suasana asri pedesaan, tawa gembira anak anak, gemericik air sungai, kerja bakti, kicau burung di pagi hari, merdunya suara shalawat anak anak menjelang adzan magrib membuat semuanya berubah. Tak ada ragu, hanya dalam waktu seminggu aku menjadi tahu banyak mengenai Desa Pemagarsari, Gg H Minggu, Kecamatan Parung - Kabupaten Bogor.

Pagi itu merupakan hari pertama masuk ke sekolah. Ayah berkata kepadaku, "Janganlah menjadi orang pertama yang mengeluh ketika lampu itu mati. Tapi jadilah orang pertama yang bergegas pergi mengambil lilin lalu menyalakannya". kata kata itu perlahan kutulis sesampainya disekolah, ku baca, kupahami, dan hasilnya aku tidak mengerti. Tak kumengerti sedikitpun tapi itu tertulis, tersurat tegas dipikiranku.

--

"Aku harus dapet rangking buat ayah sama ibu!"

Kata kata sederhana yang justru mampu membiusku untuk membuka buku, menghiraukan sorak sorai temanku mengajak bermain kelereng. Dan hasilnya? Lumayan. Aku menduduki peringkat 3 dikelas 1 sampai dengan kelas 3. Dan mengalami kemajuan di 3 tahun berikutnya. Yaitu rangking 2 di kelas 4 hingga kelas 6.

Juara 1 lomba Takhfidz Al Quran tingkat SD se-Kota Bogor, Juara III lomba cepat tepat tingkat Kabupaten Bogor, dan tidak lupa.. Mendali perunggu kejuaran pencak silat.

Sempat mengalami krisis percaya diri ketika semua teman mengejekku dengan julukan "kutil" karna ada sebuah tahi lalat manis yang menetap dihidung. Berkelahi juga karna hal tersebut. Pernah membuat dua ibu guru menangis karna kenakalan yang kuperbuat. Meskipun melibatkan teman teman yang lain, tetapi akulah orang dibalik semua itu. hehe maaf ya bu guru...

Sempat Farhan sahabat karib lama semasa SD berkata padaku di reunian kemarin, "Kaulah yang dulu selalu menjadi sesosok pemimpin dari teman teman yang lain. Buktinya semua anak selalu mengikuti kemana kamu hendak pergi, menuruti keputusan yang kamu buat dan masih banyak lagi?" kira kira seperti itulah kalimat yang farhan ucapkan sembari meleletkan lidah nya di akhir kalimat.

Meskipun pada akhirnya aku menyadari bahwa itu memang benar, tapi.. yaa.. itu tetap saja merupakan penilaian orang lain yang belum tentu benar adanya. Karna kembali pada diriku. Hanya sesosok bocah lelaki tengil yang bahkan terkadang tidak sopan.

--

6 tahun berlalu dan tibalah masa awal berhadapan dengan pubertas. Yap, saatnya naik kelas ke SMP. Lolos seleksi nem dan akhirnya masuk SMP Negeri 6 Bogor. Disinilah cerita baru akan dimulai..

Tak terlalu banyak cerita yang bisa kuceritakan pada masa awal kelas 1 SMP. Mungkin  hanya tentang cinta pandangan pertama dan kisah kecil persahabatan. Mengikuti eskul PASKIBRA PRAJAMUKTI dan OSIS/MPK juga hanya ikut ikutan dan tidak pernah serius.

Masuk ke kelas 2 dengan nilai yang cukup menggembirakan, mendapat peringkat 2 dikelas dan akhirnya masuk ke kelas unggulan. 8A..

Sempat berontak dalam hati ketika ternyata ada pengelompokkan kelas. Antara senang karena termasuk kategori anak yang cukup pintar, sedih karna merasa tidak adil. "Bagaimana negara kita mau maju apabila masih dikelompokkan mana anak yang pintar dan yang kurang? Hasilnya malah kelompok pintar akan semakin pintar, dan kelompok yang kurang pintar akan semakin terjerumus. That's useless. even make it all worse" teriakku dalam hati. Tapi apa yang bisa kuperbuat kala itu karna mengacungkan tangan saja pun belum mempunyai keberanian yang cukup?

Anneke Desmayanto Putri. Dialah orang yang gemar akan pelajaran biologi dan juga mahir pastinya. Merupakan sahabat karib yang pertama kali mengenalkanku akan ilmu tentang mahluk hidup. Orang yang  membuatku iri setengah mati ketika dia bisa menjawab semua pertanyaan dari guru biologi saat pelajaran IPA. Orang yang memaksaku untuk menjadi lebih hebat darinya. Lucu, dan memang aslinya sebelum ketemu juga udah gak waras.

Haha, mungkin memang dialah sesosok teman yang memberi petunjuk akan jati diriku. Karna terus mengikuti langkahnya, akhirnya aku berhasil terpilih menjadi anggota tim inti lomba sains di SMP. Sampai akhirnya, sedikit demi sedikit aku menyainginya bahkan pernah membantah jawaban yang dia ucapkan ke Bu Rini. Karna memang salah jawaban yang diberikan oleh Anne. Anehnya Bu Rini malah tetap mempercayai jawaban Anne, dan tidak menghiraukan protes yang kuteriakkan. Sampai pada akhirnya saat itu juga ku acak-acak, ku obrak abrik isi tasku dan JACKPOT! kuberikan buku Biologi andalanku untuk membuktikan bahwa jawabanku benar.

Wali kelasku waktu SMP pernah mengatakan, tips sukses belajar itu.. Ketika kalian sampai dirumah, langsunglah beristirahat. Setelah itu belajar diwaktu sore mengulang apa yang sudah dipelajari hari ini. Malamnya, belajar lagi untuk mempersiapkan pelajaran yang dipelajari hari esok. Sempat aku mencobanya dan sama sekali tidak cocok karena pada kenyataannya aku lebih sering pulang sore hari bermain dengan teman teman. Sampai pada akhirnya terbesit dipikiranku untuk mengambil saran tersebut tetapi mengganti jam belajarnya. Karna pada saat itu aku sangat berkeinginan mengalahkan Anne, malam hari aku belajar dari jam 7 sampai jam 10 lalu tidur. Bangun lagi tepat jam 2 dan belajar sampai dengan jam 4. Setelah itu tidur lagi dan bangun jam setengah 6. Hasilnya? Efektif. Aku bisa mengejar kemampuan Anne bahkan bisa dibilang satu langkah lebih unggul daripada dia. Tetapi, ada juga sisi negatifnya. Jam tidurku berganti jadi siang hari. Disekolah mataku sering terlihat merah dan sering sekali terlelap saat guru menerangkan. Untungnya, hanya disuruh berdiri didepan kelas sambil mengangkat satu kaki 15 menit didepan kelas. Ditertawakan. tapi.. aku tidak terlalu memperdulikan karna yang penting bisa mengalahkan Anne.

Masuk ke kelas 3 SMP. Saat saat yang menurutku merupakan konflik terbesar didalam cerita hidup selama ini. Bersiap siaplah untuk tragedi yang satu ini ...

Hidupku sempat membaik ketika ayah bekerja sebagai satpam/security di mall Roxy, Grogol, Jakarta Pusat. Dengan kerja keras ayah, walaupun hanya menjabat sebagai staf keamanan, ayah mampu membangun rumah yang cukup bagus untuk kami. Sempat aku berpikir, inilah keluarga yang harmonis. Sejak keadaan ekonomi kami mebaik, tak terlihat dan terdengar lagi suara mereka bertengkar, mengejek satu sama lain? Terima kasih Tuhan, mun gkin inilah yang dinamakan keadilanmu. Ketika pahit dan perih kami lalui, akahirnya kau tetap memberikan kami udara segar untuk bernapas.

Tetapi rupanya itu semua tidak berlangsung lama ..

Setelah diberhentikan menjadi satpam karena berkelahi dengan pelanggan sebuah bank asing, ayah stres berat dan lagi lagi mulai menampakkan keaslian dirinya. Dia lebih sering marah marah walau hanya dikarenakan masalah/hal sepele. Tapi, yaa... Itulah ayah. Jika bukan seperti itu, dia bukanlah ayah yang kukenal.

Sekarang giliran ibu untuk memperbaiki semuanya. Memutar otak, membanting tulang, bekerja siang malam untuk menutupi segala kekurangan. Bahkan mungkin, jika waktu satu hari di dunia ini lebih dari 24 jam, ibu rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk tetap membuat kami semua tersenyum.

Sampai pada akhirnya, Tuhan membuka matanya untuk kami. Berkat kerja keras ibu dan doaku, adik dan ayah.. Ayah berhasil membuka usaha rental mobil dirumah. Tetapi, siapa yang tahu jikalau itulah yang membawa malapetaka bagi keluarga kami..

Usaha rental kami semakin maju. Bahkan sampai sampai ayah mempunyai 3 mobil mewah avanza. Percaya atau tidak, akupun sudah mahir mengendarai mobil yang dahulu hanya mimpi belaka. Tanpa disadari, itulah yang membuat ayah lupa daratan. Ayah lebih sering pulang larut malam dan tidak memberi kabar apapun kepada ibu.

Ya.. seperti itulah. Seharum harumnya  bau bangkai, pasti akan tercium juga. Terlena dalam kemewahan, merasa mempunyai kelebihan "ada" dalam diri ayah, menstimulus ayah untuk melakukan perselingkuhan. Bagai disambar petir rasanya ketika semua itu terungkap. Kalimat pesan di ponsel  ayah menjelaskan kepada kami bahwa memang benar ada orang lain selain ibu.

Tentu saja ibu tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Ia berontak, menangis, mencari orang dibalik semua ini, mencemooh habis habisan orang tersebut hingga urat diwajahnya membengkak. Menyeramkan memang.

Pernah sekali ibu mengajakku untuk bersama memergoki ayah dikediamannya bersama selingkuhannya. Sesampainya disana, terdapat mobil avanza hitam terparkir rapih di depan sebuah kontrakan tua jelek. Ya.. itu mobil ayah. Tapi apa ibu yakin ini tempatnya?

Berulang kali ibu memaksaku masuk kedalam kontrakan itu tetapi aku selalu menolaknya. Meskipun aku anak mereka, bagaimana mungkin aku mau dilibatkan? Skalipun kuberanikan diri untuk masuk, apa yang akan kukatakan? Menyuruhnya untuk pulang? Bagaimana jika ia kembali menutup pintu dan tidak menghiraukanku? Oh Tuhan! Jujur aku lemah dan hilang arah.

Akhirnya ibu menegerti apa yang kurasakan setelah aku meneteskan air mata didepannya. Usai menghapus air mataku, sendirian ibu bergegas pergi masuk. Tidak sampai 1 menit, ibu kembali lagi. Matanya merah dan tangannya mengepal. "Ayo kita pulang!" seru ibu sambil mengambil beberapa buah serpihan kerakal yang lumayan besar. "Untuk apa itu bu?" tanyaku perlahan.

Ibu hanya berteriak keras, kali ini suara teriakannya sedikit berbeda. Betul, dia menahan tangisannya. Dia berkata, "sudah cepat jalan dan berhenti sebentar didepan kontrakan!"

"Gumpraaaangggg..!!!"
Benar saja. Ibu melempar batu itu sekuat tenaga tepat dijendela kontrakan. Kutancap gas sekuat mungkin karena aku tak berharap ada lemparan selanjutnya. Ibu membuang semua batu yang ada dikedua tangannya, lalu memelukku erat. Sangat erat. Pelukan keras itu menggambarkan betapa hancur perasaannya, aku tahu itu. Disepanjang jalan dia hanya berteriak dalam tangisan berkata tidak mungkin. Tak sanggup ku mendengarnya, aku pun ikut menangis. Bodoh..

Terkadang ku berpikir, tak perlulah ayah pulang lagi. Karna kedatangangannya hanya membuat pertengkaran.

We're overboard. We cant lie, we need you here dad! What we're gonna do when the best part of us was always you?

--

Aku bukan hendak mengeluh

Tapi rasanya terlalu tajam pisau yang kau gores

Kau bilang, tak ada manusia yang adil.
Lantas, kenapa kaulakukan perselingkuhan ini jika kau tidak bisa adil?

Ayah, kau terlalu jahat. Picik!

Kau hanya bisa rampas, ambil, tanpa memberi sedikitpun

Dan yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa tak ada lagi rasa pedulimu,
Hilang sudah. Musnah!

Kau akan selalu memilih dia.

Kau bukan lelaki.

Teriakan kalian bu, yah.. slalu terdengar disetiap sudut.

 ...

Bu, aku tau keadaan hatimu bu.

Hancur, hancur berkeping-keping.

Mungkin kau bisa gila?

Tp, kita bisa lewati ini.

Mulai esok,

aku akan cari obatnya.


Akan kulakukan apapun...

                                                                                     Especially for my mom
                                                                                     By : Rizky Zulkarnaen

Mungkin hanya sederet puisi diatas yang dapat membendung kecemasan meskipun meluapkan tangisanku. Sedikit pelukan hangat ketika ibu menangis merupakan obat yang paling manjur..

--

Sampai pada akhirnya , musibah menimpa ayah. Satu persatu mobil rental ditarik oleh sorum karena ayah yang lalai tidak terlalu memikirkan pekerjaan. Kabar terakhir yang didengar ternyata satu mobil yang tersisa dicuri oleh pelanggan. Alasan itulah yang membuat ayah kembali kerumah untuk meminta bantuan ibu mencari mobil itu bersama.

Seminggu berlalu dan mobil berhasil di lacak oleh polisi. Desa Meruyung, Lombok, Mataram disitulah tempatnya. Tanpa pikir panjang, ayah, ibu, beserta 2 orang polisi berangkat ke Lombok saat itu juga karna takut mobil keburu pindah tempat lagi.

3 hari berlalu, dan sampailah mereka disana. Melakukan pencarian selama dua hari dan BINGO! Mobil berhasil ditemukan. Tak perlu kaget, kalap menggelegak bagai harimau haus darah ayah melabrak habis habisan si pencuri sial itu, menghantam, menampar, menjotos dan menendangnya. Si pelaku terpelanting kian kemari. Mukanya sembap, giginya rontok dan disekujur badannya darah berbencah bencah.

Akan tetapi, ayah yang makin menggila itu belum juga merasa puas. Ia terus menghardik disertai tamparan, membentak disusul jotosan diselingi sepak terjang. Pencuri itu sempoyongan terhuyung huyung kesana kemari. Hanya teriakan stop dari kedua polisi yang membuat ayah berhenti memukul ketika mereka berdua terlambat datang.

Mobil sudah ditemukan dan pelaku dibawa ke pengadilan. Sadisnya, saat mobil itu didapat ayah malah langsung mengabarkan selingkuhannya akan berita gembira tersebut. Berbicara langsung menggunakan ponsel saat kembali ke Bogor dan tahukah kalian? Ayah persis melakukan itu semua disamping ibu karena memang ibulah orang yang duduk tepat disamping ayah didalam mobil itu ketika diperjalanan pulang.

Bibirnya bergetar, air matanya tak bisa dibendung, tangannya mengepal keras sambil membuang muka melihat keluar jendela. Sesekali ia melihat langit berharap jikalau ini semua hanya mimpi dan sebentar lagi ibu akan terbangun dari tidurnya.

Dasar tidak tahu terimakasih!!! Kalimat itulah yang pertama kali keluar dari mulutku ketika ibu menceritakan semuanya, sepulang dari Lombok.

--

Siapa yang sangka, akibat perbuatan ayah, entah apa yang terjadi di pengadilan, keluarga pelaku menuntut atas apa yang telah ayah perbuat. Dan diterima oleh hakim pengadilan. Mereka menilai tidaklah perlu menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan permasalahan. Walaupun posisi si pelaku menjadi pencuri, tetap saja tuntutan berlaku untuk ayah. Di ujung cerita, ayah dikenakan ancaman 5 tahun penjara.

Rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Lagi lagi hanya sederet puisi yang kucoba tulis untuk mensketsa bagaimana rasanya saat itu.

Ayah

Waktu memang tak akrab
denganku dan ayah
tapi di dalam buku gambarku
tak pernah ada duka atau badai
hanya sederet sketsa
tentang aku, ayah dan tawa
yang selalu bersama


ayahanda tercinta
aku putramu menangis kecewa
ayahanda,aku terdampar bukan main
di tepi murka padamu dan pada Tuhanku


ayahanda, rinduku kan ku tuang
jika malamku bertabur bintang
saat kau dekap aku dalam pangkuanmu
kau bisikan kalimat indah sang pujangga


aku ingat, kala itu
aku ingat semuanya 


(posting 05 Oktober 2011)

--

"Kemarin hari terakhir ayahmu dirumah nak. Sekarang dia sedang menundukkan kepalanya menggenggam jeruji besi. Apa lagi yang hendak kau berikan Tuhan?" Bisik ibu pelan, perlahan  menjelaskan semuanya kepadaku.

Suci memang hatimu bu. Tak terbesit sedikitpun rasa dendam pada ayah setelah apa yang ayah lakukan kepadamu. Sambil bekerja, mondar mandir Jakarta Bogor tak lupa ibu menjenguk ayah walaupun bermodal nasi bungkus 3 ribuan untuk ayah. Karna jujur, ayah sama sekali tidak bisa menelan rasa nasi buatan penjara. Dan apabila ibu tidak menjenguk, mau tak mau ayah tidak akan makan.

Disetiap pertemuan ibu selalu memeluk tubuh ayah yang kini kurus dan membungkuk, mencium pipinya yang kini semakin kerut mencekung, megusap usap kepalanya sambil berbisik, "sabar ya yah.. Disini ibu gak akan biarin ayah kesulitan. Diluar sana juga ibu sedang mencari jalan keluar agar ayah cepat dibebaskan"

Dirumah hanya ada aku dan adik. Terkadang akupun harus memutar otak bagaimana cara menghapus kerinduan adik terhadap ayah yang pada saat itu dia belum mengetahui kalau ayah dipenjara. Hari itu berbagai cara kulakukan untuk meredam tangisannya tapi hasilnya teriakan dia semakin keras. Kubelikan ini itu, tetapi tidak berhasil. Sampai akhirnya dia berhenti menangis karena memang telah kelelahan akan tangisannya berteriak memanggil ayah.

Ketika dia terlelap, sekarang giliranku untuk menangis. Menangis tepat disamping adik sembari menghapus tetesan air mata yang tersisa dipipinya. Goblok!

--

Hari hari yang kami lalui semenjak ayah tidak dirumah semakin terasa berat. Ibu yang dulu selalu membuatkan teh manis untuk ayah tiap pagi sekarang hanya tinggal cerita. Adik yang beberapa hari ini bolos sekolah karena memang tak mempunyai ongkos sepertinya semakin menjadi hal yang biasa bagi aku dan ibu.

Tapi, tidak bagiku. Biar bagaimanapun juga, aku harus tetap sekolah walaupun hanya mempunyai ongkos untuk pergi. Bagaimana dengan ongkos untuk pulang? Biarkan sajalah. kupikirkan itu nanti.

Semenjak hari itu aku selalu menolak apabila sahabat sahabatku mengajak pergi ke kantin. karna apa yg akan kulakukan disana? bersenda gurau sambil menahan lilitan sakit perutku karna dari rumah sarapan saja pun tidak? Sudahlah, kalian pergi saja kawan. aku nanti menyusul. Mungkin hanya itu yang selalu menjadi alasan untukku menolak mereka.

--

Aku bukanlah tipe pria yang menyerah ketika musibah menimpaku. Malah terkadang, aku membuatnya menjadi motivasi terbesar dalam hidupku walaupun rasanya mustahil. Tetapi, aku membuatnya menjadi kenyataan.. Juara 1 D'COOKIES SMANDA, juara 2 LCT Biologi SMAN 6, buah kerja kerasku selama 6 bulan terakhir di SMP.

Waktu itu jadi ceritanya.. ketika membawa piala-piala kemenangan dengan senyum haru bahagia.. Ibu menyambutku dengan pelukan hangatnya berkata bahwa ia bangga padaku. Dalam hati ku berkata, ini semua kulakukan untuk menghapus luka perih hatimu walaupun hanya sedikit dan sementara. Tapi.. ya.. hanya ini yang bisa kulakukan untukmu bu. Sejujurnya, kaulah yang telah membuatku seperti ini..

Tak berniat untuk menangis, tapi tetap saja bola mataku lagi lagi tak mau membendung air mataku.

"Bu, kiki mau ketemu ayah sambil bawa piala-piala ini sebelum sekolah ambil.." pintaku perlahan ketika hendak tidur yang saat itu.. aku, adik, dan ibu tidur satu kamar karna tak ada lagi yang boleh terlihat menangis diwaktu malam. "Iya ki.. besok kamu libur kan? kita kesana bertiga" jawab ibuku tersenyum.

Tibalah saat yang kutunggu tunggu. Tak berhenti bibirku tersenyum lebar dari rumah hingga sampai ke tempat tahanan ayah.  Rasanya bagaikan terbang tinggi ketempat paling indah di dunia, berdiam diri sebentar lalu memeluk bulan. Bahkan tak bisa kugambarkan betapa bahagianya saat itu lewat papan qwerty ini.

tapi ternyata...Senyum lebar dari kuping kiri dan kananku seketika menyipit datar ketika ibu menyuruhku menunggu sebentar di ruang tunggu bersama adik dan akhirnya ia kembali beberapa saat sambil berjalan tergesa gesa. Kerudungnya berantakan, keringatnya mengucur, tangan kirinya mengepal disusul tangan kanannya menekan mulut menahan isak tangis.

Aku yang melihat ia berjalan cepat kemudian tiba tiba ia berlari sekuat tenaga.. Diam seribu bahasa. Berpikir sesuatu yang tidak diinginkan baru saja terjadi. Lagi.

Lorong koridor yang sepi itu tiba tiba kukagetkan dengan teriakan kerasku melihat ibu yang seketika tersandung jatuh karna saat itu dia memakai gaun terbaiknya hanya untuk terlihat cantik lagi manis menemui ayah. "Ibuu..!!". Tanpa pikir panjang bocah lelaki ini secepat kilat berlari kencang menghampiri wanita rentan yang terjatuh dan sekarang dia menangis hebat.

Tak mampu kugambarkan betapa hebatnya tangisan ia saat itu. Mungkin kalian bisa bilang ini terlalu berlebihan? Tapi saat itu terasa bagai petir yang menggelegar diseluruh penjuru dunia. Bagai guntur badai yang bersahut sahutan ketika langit hendak mengubah warnanya menjadi kelabu. Dia merengek berteriak lagi dan lagi memekakkan telinga membuatku berniat untuk menyilet urat nadiku saat itu juga.

Kerudungnya ia tarik dan ia lempar jauh...

Mungkin, hanya pelukan kencang yang kuberikan, yang saat itu dapat sedikit meredam teriakan ibu sambil kubisikkan  kalimat kecil ditelinganya, "Istigfar bu.."

Suasanan mulai menenang yang membuktikan bahwa dekapanku bekerja dengan baik walau sekarang masih tersisa isak tangis ibu menarik lendir ingusnya yang berantakan, belepotan disekitar pipi, hidung, dan mulutnya. Matanya mulai sembap, rambutnya kian acak acakan, urat kepalanya membengkak. Tragis.

"Ibu kenapa?" tanya adik perlahan ketika tangisan ibu sudah mulai tidak terdengar. Ibu menjawab..

Tak perlulah ku dikte disini apa yang ibu luapkan saat itu karena ia pun mungkin tak sadar telah mengucapkan kata kata yang seharusnya tak ia ucapkan. Yang paling kuingat hanyalah aku yang membungkam mulut ibu ditengah bahasa kotornya menjelaskan semua.

Setelah ia diam, perlahan ku genggam kedua tangan ibu sambil menatapnya dengan menorehkan senyuman kecil lalu kuremas bahunya, mengangkatnya berdiri dan terakhir menghapus air matanya.

Melangkahkan kaki keluar berjalan perlahan, membawa kembali lagi piala yang sudah kubawa, menuntun adik dan terakhir menyetop angkutan kota sesampainya di bibir gerbang Polres Cibinong. Sedikit.. Tidak! Sangat kecewa hari itu. Adik pun sudah tak berani mengatakan apapun. Sunyi bisu layaknya tembok ketika aku mengusap usap kepalanya dilanjutkan kucium keningnya dengan penuh kehangatan.

--

"hmmmhhhhh...."
Menghembuskan nafas panjang ketika baru saja berbalik badan memberikan uang pada pak supir angkot sesampainya didepan gang rumah. Kuletakkan piala piala itu diatas meja belajar dan kuberi sedikit tambahan disampingnya berupa foto ayah yang berbingkai coklat berukuran kira kira 10 x 25 cm. Kutatap baik baik piala piala itu dan kubandingkan dengan foto ayah berharap foto itu hidup dan ayah tersenyum bangga melihat apa yang telah diperbuat jantan peliharaannya yang kini ia buang jauh jauh. Ku ambil kembali gambar foto orang yang saat itu kupanggil berengsek, kuusap usap dibagian mukanya dan "crekk.." tak kuasa ku menteskan air mata dan sialnya air itu jatuh tepat difoto ayah yang membuat tangisanku semakin menggila.

Mencoba untuk jinakkan tangisan nakalku dengan cara menampar pipi sendiri, menjotos tembok lagi dan lagi sekuat tenaga.. memang itulah yang saat itu kulakukan mencoba untuk tidak tenggelam dan kembali ke kapalku. Terakhir kusingkirkan semuanya dari meja belajarku berteriak bajingan!!!

Aku menangis yah.. Ya. Aku menangis..

Dan ketika kuberhasil menjinakkan tangisanku, sekarang malah bengong menikmati suasana mentari sore yang saat itu hendak cepat cepat menenggelamkan dirinya. Mungkin hanya sisa tetesan air mata dipipi yang saat itu menjadi sahabat karibku, menemani nikmatnya suasana matahari terbenam yang sinarnya menghangatkan setengah badanku, yang kala itu kusaksikan lewat jendela kamar.

--

Pelaku utama ibu --> (aku = ibu)

Naluriku menyengat memberontak dada ketika melangkahkan kaki masuk, meninggalkan kalian berdua. Perasaanku tidak enak, tidak pula tahu apa alasannya. "Ah, tidak mungkin!" teriakku dalam hati ketika terlintas dalam pikiranku bahwa sesuatu yang buruk akan atau mungkin, sedang terjadi.

Keringat dingin mulai keluar dari tempat tempat tempat per sembunyiannya. Jantungku berdegup degup dan sialnya kaki ku pun ikut gemetar menyusuri lorong koridor sempit yang penuh jeruji besi disamping kanan dan kiri berisi pengutil, perampok,  pemakai dan pemerkosa.

Sampai pada akhirnya aku pun mulai mahir menguasai pikiran negatif yang sejak tadi menari nari diatas jidatku, yang menjadikan aku bagai nelangsa setengah mati.

Tinggal beberapa langkah lagi kedepan, belok kanan, disitulah tempatnya. Menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan dan ...

...................."Zeb.."
Aku berhenti seketika, mematung, melihat bahwa naluriku tidak salah kali ini. Kepalaku menggeleng perlahan ke kanan dan ke kiri, ditemani air mata yang terjun makin deras dan semakin deras! Bibirku bergetar menahan hebatnya teriakan tangis yang jika saat itu kuluapkan, mungkin mampu memecahkan beling jendela seantero ruangan.

aku sekarat..

sekejap saja namun rasanya mampu membuatku tersentak sedemikian hebat, terdampar bukan main di tepi murkaku akan dustamu yah.

Harusnya aku yang menyuapimu makanan dengan penuh mesra! Harusnya aku yang diberikan senyum tulus yang telah lama hilang itu. Harusnya aku yang kau cium dan peluk. Harusnya aku yang kau bungkam dengan kalimat cinta pujanggamu. Harusnya aku, harusnya aku!

itulah yang terjadi ki..

(back to the story)

Malam itu ibu baru menjelaskan semua. Malam hujan deras yang menyebabkan listrik di komplek rumahku padam dan memaksaku untuk menyalakan lilin yg justru malah membuat suasana makin galau. Ibu hanya menangisi kekalahan pahit karna memang ada yg lebih baik darinya dimata ayah. Jelas jelas ayah yang brengsek, yang salah tidak bisa memegang janjinya? Tapi sekarang ibu berpikir lain. Dia malah menyalahkan dirinya sendiri karna sempat letih menjadi yang terbaik untuk ayah.

"Cepat hibur ibu ki.." teriak otakku membentak hati yang saat itu pun ikut menangis bersama ibu. Apa yang harus aku lakukan? meredam tangisan ku sendiri pun belum berhasil. Sekarang kau menyuruhku untuk menghiburnya? Persetan.


--

Life without risk is life unlived.

Mungkin inilah saat saat terberat dalam hidupku. Meskipun kenyataan memberikan jawaban lain bahwa masih banyak diluar sana yang lebih tragis hidupnya dibanding aku, kau, atau siapapun. Hal itulah yang membuatku terus berpura-pura untuk tidak menjadi orang yang paling menderita.

Aku tak bermaksud menggurui.
Tapi sebenarnya ini bukanlah tentang penderitaan didalam buku gambar seseorang belaka. Tapi bagaimana cara seseorang menghidupi kehidupannya.


 --

Ibu yang semakin dirasuki oleh rasa bersalahnya, membuat Ia semakin yakin bahwa dialah orang yang paling bertanggung jawab atas apa-apa yang telah terjadi.

Tak bisa kuceritakan apa yang terjadi di ruang sidang ayah tapi satu hal yang pasti bahwa ayah mendapat keringanan masa tahanan apabila kami mampu membayar denda sebesar 10 juta, dalam jangka waktu 2 minggu.

Itu mustahil. Tidak mungkin. Tak akan pernah.
Dimana letak keadilan Tuhan?
Ada yang pernah mengatakan bahwa sesuatu yang mustahil iaalah kemustahilan itu sendiri.

Ibuku bukanlah super mother, iron mother, transmother atau apalah itu yang diberikan kekuatan untuk merubah takdir dan kemustahilan. Tapi ibuku punya satu hal yang mungkin tak dimiliki siapapun.

Ibu punya CINTA.

Kekuatan cinta yang mampu merubah semua kata 'tidak' menjadi 'ya'. Kekuatan cinta yang mampu merubah kemarau gersang menjadi angin lembut. Kekuatan cinta yang mempu membuatnya setara dengan super mother, iron mother, dan transmother. Ya. Kekuatan cinta.

Kalian pernah lihat supir angkot?
Pernah liat yang perempuan?
Kalau ya, mungkin kalian pernah bertemu ibuku. Ya. Ibu adalah salah satu dari mereka.

--

Sebelumnya, aku tidak pernah menangis untuk menuliskan ceritaku. Tapi kali ini aku menangis..

Panas matahari kala itu mencekik bukan main, menyorot setengah badan ibu. Debu jalanan yang berlarian di udara, menabrak habis-habisan wajah halus nan cantik ibu. Rambutnya yang sengaja iya potong pendek agar  tampak bahwa dirinya juga jantan. Keringat sucinya yang mengucur yang kadang menyebrang ria mengarungi halis, jidat, pipi dan hidungnya. Saking panas dan letihnya, keringat itu pun sanggup menembus topi hitam yang ibu pakai.

Suaranya yang lirih berteriak jalur trayek angkot, membuat semua penumpang merinding dan bertanya-tanya "kenapa harus perempuan..?". Handuk kecil putih yang semenjak pagi ibu bawa sudah mulai kecoklatan. Tangan halusnya yang biasa dulu ia pakai untuk menghelus kepalaku kini beralih ke stir mobil kasar yang berkarat. Membuat tangannya kasar bahkan pernah berdarah. Hanya saja ibu tidak bercerita padaku. Tapi akau tahu karna sapu tangannya pernah ada tetesan darah.

Tapi dia tetap tersenyum. Dia tersenyum karna cintanya padaku, adik, dan ayah...


(@) ................buffering................. (@)