Sabtu, 12 Oktober 2013

Generasi baru : Generasi Penuh Kebersamaan

Selamat siang semuanya!
Sebelum saya jabarkan artikel sederhana yang berbau nasionalisme kali ini, saya ingin menginformasikan bahwa artikel ini tidak hanya diperuntukkan untuk rekan-rekan sekalian, teteapi juga ikut dilombakan dalam ajang Lomba Menulis di Blog "Generasi Muda Indonesia Menjawab Tantangan Masa Depan" (http://lomenulis.com/post/70080506896/lomba-menulis-di-blog-generasi-muda-indonesia-menjawab)

Seperti yang telah diinstruksikan pada link diatas, terlebih dahulu akan saya cantumkan mengenai biodata diri saya sebagai peserta lomba.

BIODATA DIRI

Nama Lengkap                 :               Rizky Zulkarnaen
Jenis Kelamin                    :               Laki-laki
Tempat Lahir                    :               Jakarta
Tanggal Lahir                    :               1 Maret 1996
Asal Sekolah                    :               SMA Negeri 2 Bogor
Kelas                               :               XII IPA I
Alamat Sekolah                :               Jl. Kranji Ujung 1 Budi Agung - Bogor-16310
Telepon Sekolah              :               Telp. 0251-8318761  Fax. 0251-8318761
Alamat rumah                  :               Gg. H. Minggu RT 05/02, Desa Pemagarsari,Kec. Parung, Kab. Bogor
Handphone                     :                085775537080        
Kategori lomba               :                Kategori 2 (Pelajar tingkat SLTA)


Generasi baru : Generasi Penuh Kebersamaan
(Generasi Muda Indonesia Menjawab Tantangan Masa Depan)

"Indonesia akan terus tumbuh menjadi bangsa besar. Itu karena kita punya banyak putera-puteri Indonesia berkemampuan unggul"

Kira kira seperti itulah kicauan pak Presiden SBY beberapa pekan lalu. Sebuah ungkapan sederhana yang mampu mencitrakan berjuta kebanggaannya terhadap apa yang telah dicapai oleh muda-mudi Indonesia di kancah nasional maupun internasional. Ada banyak sekali generasi muda Indonesia yang memang terbukti prestasinya dimata dunia.

Tidak hanya prestasi dalam bidang olahraga, dalam bidang akademik pun Indonesia tak mau kalah. Pelaksanaan olimpiade fisika, matematik, astronomi, kebumian, selalu mencantumkan nama Indonesia pada daftar negara kelas atas yang selalu diprediksi memborong logam medali bersama dengan China dan Finlandia. Begitu mengharukan apabila kita tanya pada mereka apa yang menjadi alasan mereka rela mengorbankan jiwa raganya, melakukan hal yang luar biasa, hanya untuk menjadi seorang juara. Ingin rasanya air mata ini menetes ketika mereka mengatakan, "Aku ingin mengharumkan nama Indonesia. Aku ingin membuktikan bahwa ibuku melahirkan seorang pejuang. Aku boleh saja kalah. Tapi untuk memperjuangkan Indonesiaku, aku tidak akan sekalipun memilih mundur.."

Kenyataannya, mereka yang menjadi juara adalah mereka yang berjuang mati-matian. Mereka yang juara adalah mereka yang mampu melewati batas kemampuan mereka. Mereka yang menjadi juara adalah mereka yang menangis dalam solatnya. Mereka yang menjadi juara adalah mereka yang mau bangkit!



Namun apakah benar dengan kemampuan dan pemikiran seperti itu, generasi kita mampu menjawab tantangan masa depan, seperti tema yang telah panitia lomba menulis artikel ini pinta? 

Mari sejenak berhenti berbincang mengenai apakah generasi ini mampu atau tidak menjawab tantangan masa depan dan kembali terlebih dahulu menengok apa yang sedang terjadi pada generasi ini. Sedikit kita tengok ke kiri dan ke kanan maka kita akan berkata.. "Hmm.. Tapi yaa inilah Indonesia. Prestasi, kebanggaan, pencapaian di negara ini seakan selalu diiringi oleh keterpurukan. Krisis ekonomi, kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme seakan sudah menjadi budaya. Tawuran, vandalisme dan degradasi moral melanda anak muda. 1001 masalah besar masih menggerogoti negara ini."

Sebenarnya sulit sekali mengartikan apabila ada sebuah ungkapan bahwa Indonesia adalah negara yang begitu dicintai oleh rakyatnya. Karena akan banyak sekali timbul pro-kontra tentang Indonesiaku. Kalo kita coba tuliskan seberapa buruk Indonesia, satu buku ensiklopedia pun belum tentu cukup. Keyboard qwerty paling mutakhir juga tidak akan mampu untuk menjabarkan blangsaknya Indonesia. Indonesia memang negara yang buruk. Dan harus kita akui itu.


Petinggi-petinggi yang harusnya menjadi teladan, malah korupsi. Pemimpin wakil rakyat yang harusnya membawa suara rakyat, malah moloor di ruang rapat/sidang. Produk impor yang harusnya dijadikan kebutuhan tambahan, sudah menjadi kebutuhan pokok.

Adalagi mahasiswanya yang hanya mementingkan IPK agar kelak jadi kacung di perusahaan-perusahaan asing, pelajarnya yang tak pernah bisa sadar akan pentingnya nasionalisme dan patriotisme dan masih banyak lagi. Miris.

Mungkin apabila kenyataannya adalah seperti yang baru saja kita bahas, sulit rasanya untuk menjawab apakah generasi kita mampu menjawab tantangan masa depan. Semua orang pun tahu, bahwa sepintar apapun suatu generasi dalam membangun bangsa namun terlihat jelas pula kebobrokan karakternya, maka tunggulah kehancuran dari bangsa tersebut. Hal ini sama halnya dengan pernyataan bahwa state building (pembangunan negara) itu juga harus diimbangi dengan nation building (pendidikan karakter).

Tapi cobalah kita tarik satu pokok masalah yang memang benar benar bisa membuat perubahan dan juga perbedaan. Sejenak kita berpikir dan merenung, menanamkan dalam hati "Perlu gak sih kita ungkit ungkit terus kebobrokan mereka yang gak malu KKN di negara sendiri? Perlu gak sih lagi-lagi kita bahas kejelekan Indonesia? Perlu gak kita ngurusin, nyela, mereka yg telah sekian banyak membuat onar? Apakah itu yang kita butuhkan?"

Sadarilah teman teman, yang paling kita butuhkan sekarang adalah generasi baru. Lebih tepatnya generasi baru yang membawa perubahan. Kenapa generasi baru? Karena masalah yang ada di negeri ini tidak akan pernah bisa berhenti apabila generasi penerusnya yang tidak berniat untuk menghentikan. Karena generasi barulah yang akan mewarisi amanat-amanat bangsa. Karena generasi barulah generasi yang bisa belajar dari pengalaman generasi yang sebelumnya. Dan karena generasi barulah yang akan bersiap-siap untuk menjawab tantangan masa depan.

Lantas, siapakah generasi baru tersebut? Kita! Ya, kita muda-mudi Indonesia. Kenapa kita? Karena hanya kitalah yang dapat memperbaiki semua kekacauan. Apakah kita sudah siap dan pantas? Karena untuk menjadi generasi baru yang benar benar 'baru' tidaklah mudah.

Ketahuilah, ini akan terasa sangat menyakitkan kelak menjadi generasi baru. Akan sangat menyakitkan ketika kita gak bisa lagi korupsi seperti mereka yang ada diatas kita. Akan menyakitkan saat kita harus jujur. Ini akan sangat menyakitkan saat kita harus bekerja siang dan malam padahal dulu diatas kita bekerja tak seberat apa yang kita lakukan. Ini akan sangat menyakitkan saat kita harus bertindak 'benar', dan meninggalkan, menjauhi kenikmatan-kenikmatan yang sebenarnya bisa saja kita ambil seperti apa yang dilakukan diatas kita dulu.

Ini akan terasa tidak adil saat kita memberikan penghargaan luar biasa terhadap mereka yang memiliki prestasi gemilang padahal dulu kita yang berprestasi tidak pernah dipedulikan. Akan terasa tidak adil kalau kita harus mengalahkan ego diri kita sendiri dan menjadikan masalah bersama menjadi prioritas. So, sangat sulit dan tidak adil kalau kita harus berubah dan ikut serta menjadi generasi baru. Ya kan?

Dari uraian diatas bisa disimpulkan bahwa harga untuk menjadi generasi baru tidaklah murah. Dibutuhkan sejuta pengorbanan untuk kata perubahan. Berkorban materi, waktu, bahkan perasaan. Dan sialnya, hanya dengan perubahan, bangsa kita bisa makmur dan sejahtera.

Tapi coba kita pikir dan bandingkan sejenak.. Kalau kita kembali ke paragraf awal, disitu disebutkan bahwa Indonesia memang benar memiliki generasi/orang-orang yang mau berkorban melakukan perubahan. Yang menjadi masalah adalah, ada berapa banyak? Karena apabila hanya segelintir orang dari 240 juta orang Indonesia yang mau berkorban, maka hasilnya akan sama saja. Sama seperti kata pak Harto dulu, "keberhasilan pangan tidak akan banyak berarti apabila jumlah penduduk terus bertambah." Kaitannya dengan kasus ini adalah, keberhasilan yang diciptakan orang Indonesia untuk Indonesia tidak akan berdampak apa-apa apabila jumlah orang yang tidak peduli dengan Indonesia juga bertambah.

Teman-teman, akhirnya kita temukan apa yang kita butuhkan. Kebersamaan dan kepedulian. Kebersamaaan dan kepedulian yang lahir pada generasi yang baru. Kekompakkan dari segala bidang yang ada. Bukankah kemerdekaan ini direbut dengan kebersamaan? Kala itu seluruh orang yang ada dipelosok Indonesia menginginkan kemerdekaan dan itu tercapai!

So guys if we started it as a family, so we will finish it as a family!

Sekarang bayangkan. Apabila ke-240 juta orang Indonesia peduli dengan masa depan bangsanya. Bayangkan apabila ke-240 juta orang Indonesia memiliki semangat layaknya seorang pejuang yang menginginkan kemerdekaan. Undescribeable..

Kala itu, kita pernah digetarkan dengan kemenangan timnas U-19 melawan Korea. Menangislah dan pecahlah kala itu suasana distadion Gelora Bung Karno saat wasit meniup peluit panjang. Mereka adalah generasi baru yang dengan kebersamaannya mampu kalap menggelagak bagai Garuda haus akan kemenangan. Mereka menginspirasi kita bahwa Indonesia bukanlah negara bawahan dan kita dapat terus berubah menjadi lebih baik. Mereka membuktikan bahwa perjuangan para pahlawan memerdekakan Indonesia kala itu bukanlah hal yang sia-sia. Mereka telah jatuh cinta dengan tanah air mereka sendiri. Mereka seakan tak pernah perduli bahwa sebobrok apapun negara mereka, itu tetap menjadi negara mereka!

Jadi tunggu apalagi kawan-kawan. Terus sebarkan semangat persatuan dan kesatuan keseluruh pelosok tanah air. Karna orang yang bisa menolong Indonesia adalah orang-orang Indonesia itu sendiri. Jangan berharap merdeka apabila sakit sedikit saja sudah mengeluh, jangan berharap menjadi negara maju apabila belum mencintai negara sendiri.

Ayooo kita ciptakan generasi yang baru! Indonesia boleh jatuh kemarin dan saat ini. Tapi hari esok, aku dan kamu yang merubah!!!


 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar