Waktu memang tak akrab
denganku dan ayah
tapi di dalam buku gambarku
tak pernah ada duka atau badai
hanya sederet sketsa
tentang aku, ayah dan tawa
yang selalu bersama
ayahanda tercinta
aku putramu menangis kecewa
ayahanda,aku terdampar bukan main
di tepi murka padamu dan pada Tuhanku
ayahanda, rinduku kan ku tuang
jika malamku bertabur bintang
saat kau dekap aku dalam pangkuanmu
kau bisikan kalimat indah sang pujangga
aku ingat, kala itu
aku ingat semuanya
tapi, nasi sudah menjadi bubur
slamat tinggal ayah ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar