What do you want, Hon? What?
Because I'm tired trying to figure it out.
You want someone perfect? I'll change my life for you!
When I said I'll change my life for you, you said you don't want it anymore.
What?
I know what I want, because I have it in my heart right now.
Do you?
Do you know what you want?
I want to be "Mr. Right", not "Mr. Right Now".
P.S I Love You..
Selasa, 29 November 2011
Everyone have such a PAST
You wanna know why I did that to you? Because something scare the hell out of me.
What if you hurt me?
What if you left me?
What if you die?
That would be the end of me.
So I cut it short before you have it done.
But you know what?
IT WAS THE BIGGEST MISTAKE I'VE EVER MADE.
I didn't strong enough for you. And now look at me!
An empty lonely ghost man. It doesn't mean I'll never get hurt.
But I guarantee myself this.
Every pain I feel, never ever comparable to the regret that comes when you're runaway from it.
Trust me, pain beats every regrets that comes everyday and even twice.
Jumat, 11 November 2011
Belajar Mengasihi Dari Malaikat Kecil
Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.”
Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya Sindu tampak ketakutan, air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India/curd rice).
Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.
Aku mengambil mangkok dan berkata, “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak sama ayah.”
Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya, dan berkata, “Boleh ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta.”
Agak ragu sejenak “akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?” Aku menjawab, “Oh…pasti, sayang.”
Sindu tanya sekali lagi, “Betul nih ayah?”
“Ya pasti!” sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.
Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, janji kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata, “Sindu jangan minta komputer atau barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.”
Sindu menjawab, “Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang mahal kok.” Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hati aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.
Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap, dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotakin pada hari Minggu.
Istriku spontan berkata, “Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin.” Juga ibuku menggerutu jangan-jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV dan program TV itu sudah merusak kebudayaan kita.
Aku coba membujuk, “Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak.” Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, “Tidak ada yah, tak ada keinginan lain,” kata Sindu. Aku coba memohon kepada Sindu, “Tolonglah…kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.”
Sindu dengan menangis berkata, “Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya. Kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apa pun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India zaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.”
Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, “Janji kita harus ditepati.” Secara serentak istri dan ibuku berkata, “Apakah kamu sudah gila?” “Tidak,” jawabku, “Kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu, permintaanmu akan kami penuhi.”
Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.
Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.
Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak, “Sindu tolong tunggu saya.” Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak laki-laki itu botak.
Aku berpikir mungkin”botak” model zaman sekarang. Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, “Anak anda, Sindu benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya. Dia menderita kanker leukemia.” Wanita itu berhenti sejenak, nangis tersedu-sedu.
“Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemotherapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek/dihina oleh teman-teman sekelasnya. Nah Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul-betul tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”
Aku berdiri terpaku dan aku menangis, “Malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang kasih.”
Sabtu, 05 November 2011
Ayah, kembalikan tangan Dita
Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.
Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" ….
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ` Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"…jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah. "Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok
Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain nanti?… Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang.
Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf..
Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" ….
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ` Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"…jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah. "Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok
Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain nanti?… Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang.
Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf..
Selasa, 18 Oktober 2011
Lukamu Ibu
Aku bukan hendak mengeluh
Tapi rasanya terlalu tajam pisau yang kjau gores
Kau bilang, tak ada manusia yang adil.
Lantas, kenapa kaulakukan perselingkuhan ini jika kau tidak bisa adil?
Ayah, kau terlalu jahat. Picik!
Kau hanya bisa rampas, ambil, tanpa memberi sedikitpun
Dan yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa tak ada lagi rasa pedulimu,
Hilang sudah. Musnah!
Kau akan selalu memilih dia.
Kau bukan lelaki.
Teriakan kalian bu, yah.. slalu terdengar disetiap sudut.
Bu, aku tau keadaan hatimu bu.
Hancur, hancur berkeping-keping.
Mungkin kau bisa gila?
Tp, kita bisa lewati ini.
Mulai esok,
aku akan cari obatnya.
Akan kulakukan apapun...
Especially for my mom
By : Rizky Zulkarnaen
Tapi rasanya terlalu tajam pisau yang kjau gores
Kau bilang, tak ada manusia yang adil.
Lantas, kenapa kaulakukan perselingkuhan ini jika kau tidak bisa adil?
Ayah, kau terlalu jahat. Picik!
Kau hanya bisa rampas, ambil, tanpa memberi sedikitpun
Dan yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa tak ada lagi rasa pedulimu,
Hilang sudah. Musnah!
Kau akan selalu memilih dia.
Kau bukan lelaki.
Teriakan kalian bu, yah.. slalu terdengar disetiap sudut.
Bu, aku tau keadaan hatimu bu.
Hancur, hancur berkeping-keping.
Mungkin kau bisa gila?
Tp, kita bisa lewati ini.
Mulai esok,
aku akan cari obatnya.
Akan kulakukan apapun...
Especially for my mom
By : Rizky Zulkarnaen
Rabu, 05 Oktober 2011
Inilah cowo!
pada suatu hari, ketika seorang lelaki penebang kayu sedang menebang beberapa ranting pohon di tepi sungai, tanpa disengaja kapak yang dia pegang terlepas dan jatuh ke dalam sungai. karena sedih, lelaki itu pun menangis. seketika itu muncul peri penyelamat dan bertanya kpdnya, "mengapa engkau menangis?"
si penebang kayu menjawab bahwa kapaknya telah jatuh ke dalam dasar sungai yang dalam, dan dia benar2 membutuhkan kapak itu untuk menafkahi keluarganya.
sang peri masuk ke dalam sungai dan muncul ke permukaan dengan membawa sebuah kapak emas. "apakah ini kapakmu?" sang peri bertanya
si penebang kayu menjawab, "bukan."
sang peri kembali masuk ke dalam sungai dan muncul dengan membawa sebuah kapak perak. "apakah ini kapakmu?"
"bukan." lelaki itu menjawab
sekali lagi, sang peri masuk ke dalam sungai dan kali ini muncul dengan membawa sebuah kapak usang yang terbuat dari besi. "apakah ini kapakmu?"
kali ini si penebang kayu itu menjawab."iya, itu kapak saya."
sang peri sangat tergugah atas kejujuran lelaki itu dan akhirnya memberikan ketiga kapak itu kepadanya. dan lelaki penebang kayu itu pulang ke rumahnya dengan penuh rasa gembira.
beberapa hari berikutnya, si penebang kayu itu sedang berjalan bersama istrinya menyusuri tepi sungai, dan tiba-tiba sang istri terjatuh ke dalam sungai. melihat si penebang kayu menangis, sang peri pun kembali muncul dan bertanya, "mengapa engkau menangis?"
"oh peri, istriku terperosok dan jatuh ke dalam sungai!"
dan sang peri pun langsung masuk ke dalam sungai dan kembali muncul ke permukaan dengan membawa Luna Maya. "apakah ini istrimu?"
"iya" jawab lelaki itu sambil menahan isak tangis
sang peri kali ini menjadi murka, "bohong kamu!! berani-beraninya kamu berbohong kepadaku!!"
sambil gemetar lelaki itu menjawab. "wahai sang peri, maafkan saya. jangan salah paham dulu. jika saya bilang "tidak" pada Luna Maya, engkau akan kembali masuk ke dalam sungai dan mungkin akan membawa Cut Tari. dan jika saya kembali menjawab "tidak", engkau akan masuk lagi kedalam sungai dan membawa istri saya. dan jika kali ini saya menjawab "iya, itu lah istri saya" engkau akan memberikan ketiganya untuk saya. perlu engkau ketahui wahai peri, saya ini hanya seorang penebang kayu yang miskin, saya tidak akan sanggup menghidupi tiga istri. maka dari itu saya menjawab "iya" saat engkau membawa Luna Maya kepada saya.
NB :
ketika seorang lelaki berbohong, itu berarti dilakukannya demi tujuan yang baik dan mulia, dan demi kepentingan bersama,
hehehhe
si penebang kayu menjawab bahwa kapaknya telah jatuh ke dalam dasar sungai yang dalam, dan dia benar2 membutuhkan kapak itu untuk menafkahi keluarganya.
sang peri masuk ke dalam sungai dan muncul ke permukaan dengan membawa sebuah kapak emas. "apakah ini kapakmu?" sang peri bertanya
si penebang kayu menjawab, "bukan."
sang peri kembali masuk ke dalam sungai dan muncul dengan membawa sebuah kapak perak. "apakah ini kapakmu?"
"bukan." lelaki itu menjawab
sekali lagi, sang peri masuk ke dalam sungai dan kali ini muncul dengan membawa sebuah kapak usang yang terbuat dari besi. "apakah ini kapakmu?"
kali ini si penebang kayu itu menjawab."iya, itu kapak saya."
sang peri sangat tergugah atas kejujuran lelaki itu dan akhirnya memberikan ketiga kapak itu kepadanya. dan lelaki penebang kayu itu pulang ke rumahnya dengan penuh rasa gembira.
beberapa hari berikutnya, si penebang kayu itu sedang berjalan bersama istrinya menyusuri tepi sungai, dan tiba-tiba sang istri terjatuh ke dalam sungai. melihat si penebang kayu menangis, sang peri pun kembali muncul dan bertanya, "mengapa engkau menangis?"
"oh peri, istriku terperosok dan jatuh ke dalam sungai!"
dan sang peri pun langsung masuk ke dalam sungai dan kembali muncul ke permukaan dengan membawa Luna Maya. "apakah ini istrimu?"
"iya" jawab lelaki itu sambil menahan isak tangis
sang peri kali ini menjadi murka, "bohong kamu!! berani-beraninya kamu berbohong kepadaku!!"
sambil gemetar lelaki itu menjawab. "wahai sang peri, maafkan saya. jangan salah paham dulu. jika saya bilang "tidak" pada Luna Maya, engkau akan kembali masuk ke dalam sungai dan mungkin akan membawa Cut Tari. dan jika saya kembali menjawab "tidak", engkau akan masuk lagi kedalam sungai dan membawa istri saya. dan jika kali ini saya menjawab "iya, itu lah istri saya" engkau akan memberikan ketiganya untuk saya. perlu engkau ketahui wahai peri, saya ini hanya seorang penebang kayu yang miskin, saya tidak akan sanggup menghidupi tiga istri. maka dari itu saya menjawab "iya" saat engkau membawa Luna Maya kepada saya.
NB :
ketika seorang lelaki berbohong, itu berarti dilakukannya demi tujuan yang baik dan mulia, dan demi kepentingan bersama,
hehehhe
gunakan 35 detik aja buat bca ini.
Ada seorng cewek memberikan tantangan kepada cwonya untuk hidup tanpa drinya, untuk tidak ada komunikasi sama sekali antara mereka selama sehari..Dia berkata pada cwonya, kalo kmu bisa melewati itu, aku akan mencintai kmu selama nya.. Si cwonya pun setuju,, dia tidak sms/telpon cwenya seharian..
Tanpa dia ketahui bahwa cwenya hanya memiliki 24 jam untuk hidup, karena dia terkena kanker..
K'esookan harinya cwonya prg krmh cwenya. Air matanya pun tiba2 menetes melihat cwenya sudah terbaring dengan surat di tangannya yang tertulis "Kamu Berhasil Sayang, bisakah kamu lakukan itu stiap hari??I LOVE YOU.."
Don't Ever lost contact with someone you care, you'll never know what's gonna happen the next day, or the day after that..
Even a single "hi" or a "good morning" Before you know that someone is no longer there....
Tanpa dia ketahui bahwa cwenya hanya memiliki 24 jam untuk hidup, karena dia terkena kanker..
K'esookan harinya cwonya prg krmh cwenya. Air matanya pun tiba2 menetes melihat cwenya sudah terbaring dengan surat di tangannya yang tertulis "Kamu Berhasil Sayang, bisakah kamu lakukan itu stiap hari??I LOVE YOU.."
Don't Ever lost contact with someone you care, you'll never know what's gonna happen the next day, or the day after that..
Even a single "hi" or a "good morning" Before you know that someone is no longer there....
Adikku
Kulihat kembali tumpukan surat kabar di rak meja ruang tamu. “Kecelakaan Garuda Tewaskan Ratusan orang,” itulah topik yang selalu diberitakan dan menjadi hampir di semua surat kabar nasional yang terbit sekitar sebulan lalu. Tragedy itu jugalah yang menewaskan kedua orang tuaku dan membuat adikku satu-satunya terbaring koma sampai detik ini. Ada rasa sesal, sedih, kecewa, marah, dan benci yang teramat sangat. Kalau saja Tita adikku, tidak selalu merengek ingin liburannya ke Paris, pasti kecelakaan itu tidak akan membuatku, yang masih menjadi mahasiswa tingkat III, menjadi yatim piatu secepat ini.
Mungkin predikat anak sial yang kudeklarasikan untuk Tita memang tidak salah. Selama 15 tahun kurasakanbetapa bahagianya menjadi anak tunggal yang selalu dimanja. Orang tuaku yang merupakan pengusaha sukses selalu memberikan apapun yang kuminta. Tapi kehadiran seorang adik di tengah-tengah kami menjadikan hidupku berubah 180 derajat. Mama lebih memperhatikan Tita, dan menyuruhku selalu mengalah. Tidak hanya itu, kedua orang tuaku pun selalu membelanya meskipun jelas-jelas Tita-lah yang bersalah. Ibarat putri raja yang seketika menjadi anak tiri. Menyebalkan !!! Kebencian itu sudah kupupuk semenjak mama dinyatakan positif hamil. Dan setiap hari hanya stress yang aku rasakan bila sudah berada di dalam rumah, karena tidak ada sedetik pun yang terlewat bahi Tita untuk tidak mengganguku.
Kejadian kecelakaan itu tidak membuat setitik pun rasa iba, bahkan kebencianku semakin memuncak padanya. Dialah yang merebut kebahagiaanku, dan dialah yang telah merenggut nyawa kedua orang tuaku. Kejadian itu benar-benar membawa kesialan bagi kehidupan pribadiku. Aku sudah tidak ada waktu lagi untuk jalan dengan teman-temanku. Bahkan Indra, pacarku, memutuskan hubungan kami hanya karena aku terlalu sibuk dengan Tita. Selama sebulan di rumah sakit, aku baru menjenguk Tita 3 kali, itupun hanya untuk mengurus administrasi dan sekerdar formalitas di depan dokter saja.
Hari ini aku menjengik Tita. Gadis kecil yang diperlengkapi dengan selang dan alat bantu kehidupannya lainnya itu, terbaring di ruang ICU yang cukup luas dan bernuansa putih-putih. Saat melihat wajah itu hatiku selalu menjerit, “Dasar Pembunuh!! Kenapa kamu tidak mati saja sekalian! Anak sial, kamu tidak hanya merebut mama dan papa tapi teman-teman saya, Indra, dan semua kebebasan saya!!” tak terasa air mata mengalir di pipiku, bukan air mata kesedihan, tapi jelas air mata kebencian. Kenapa Tuhan tidak mencabut nyawanya saja sekalian. Kehidupannya hanya akan menjadi beban seumur hidupku!!
Tak kuasa menahan tangis, akhirnya aku keluar menuju taman rumah sakit dan duduk di salah satu bangku taman yang terlindung sengatan matahari oleh sebuah pohon yang rindang. Dan di situlah air mataku mengalir deras. Tiba-tiba kusadari ada gadis kecil dengan rambut dikuncir dua sedang memperhatikanku. Seketika itu pula aku teringat Tita, dan kebencian itu mendidihkan darahku kembali.
“Ngapain sih? Tidak ada kerjaan apa ngeliatin orang nangis. Anak kecil kayak kamu bukannya sekolah malah main-main di rumah sakit!” bentakku.
Yang dibentak hanya tersenyum.
“Namaku Rara, kakak siapa?”
“Yee… nih anak bukannya pergi. Udah deh, kakak lagi stress, jangan bikin kepala kakak jadi mumet.”
“Semua orang yang ke rumah sakit pasti mumet, tapi itulah hidup, kadang sehat, kadang sakit. Orang suka lupa sama tuhan kalau lagi sehat, tapi kalau sakit, apalagi deket-deket mau meninggal, eh bukannya taubat malah nyalahin Tuhan, kok tuhan ngasih cobaan seberat ini,” jawabnya yang membuatku melongo.
“Ih, dasar anak kecil sok tahu!!”
“Aku tahu, adik kakak sedang koma ya”
“Gak usah dibahas deh!! Gara-gara dia, mama dan papa meninggal.”
“Dia beruntung karena dia masih punya kakak. Aku juga sakit. Suatu saat nanti Tuhan akan mengambil penglihatanku, tapi aku yakin Tuhan akan membantu dalam kebutaanku karena Dia selalu adil pada semua orang, dan tidak akan membiarkan seorangpun mendapat cobaan yang tidak bias ditanggungnya.”
***
Kejadian hari itu benar-benar telah membuka mata hatiku. Seorang anak kecil telah mengajarkanku arti kehidupan. Ia benar, Tita hanya tinggal memilikiku. Aku tak pernah membayangkan bagaimana perasaannya saat ia tahu mama dan papa telah meninggal.
Entah mengapa akhir-akhir ini aku malah merindukan kehadiran Tita. Rumah ini benar-benar sepi tanpa canda dan kata-kata polosnya yang selalu membuat mama terpingkal-pingkal. Kulangkahkan kakiku ke kamar Tita di lantai atas. Kamar yang bernuansa pink, gambar kartun dimana-mana. Kamar yang tak pernah kudatangi sejak tragedi itu.
Tiba tiba mataku menangkap sebuah buku harian bergambar mickey mouse. Kubuka lembar demi lembar. Tak kusangka gadis berusia 7 tahun itu menulis segalanya tentang diriku.
“Kak Aurora adalah kakak paling cantik di dunia. Aku sayang padanya, amat cinta padanya. Aku hanya ingin kakak bahagia, aku ingin seperti teman-teman, aku ingin kakak mengajakku jalan-jalan, aku ingin kakak mengajariku matematika, karena dia sangat pintar. Tapi kok kakak tak pernah mau ya?? Aku sedih. Aku pernah Tanya sama mama apa kakak membenciku, tapi kata mama kakak sangat saying padaku, dia Cuma tidak enak badan, makanya malas ngomong sama aku. Aku suka ngejailin kakak, karena aku mau main sama kakak, tapi aku sedih karena kakak menampar mukaku. Aku tidak bilang sama papa, takut kakak dimarahi, dan nanti malah membenciku. Aku nangis semalaman saat kakak membuang kado ulang tahun yang aku kasih, padahal aku membeli kado itu dengan uang jajan yang aku tabung selama seminggu, sampai-sampai aku lapar karena tidak bisa jajan. Kakak,marah-marah waktu baju pestanya bolong. Tadinya aku Cuma ingin menyetrika baju itu biar tidak kusut, tapi pas lagi nyetrika, aku dipanggil mama, eh aku lupa, bajunya jadi bolong, terus aku dimarahin abis-abisan deh.
Diari, aku punya rahasia besar!! Kakak kan punya pacar namanya Indra, tapi aku tidak suka sama dia!! Aku tau dia punya pacar lain, kak veronica, sahabat kak Aurora. Aku pernah liat meraka mesra-mesraan waktu aku nganterin mama ke mall. Tapi aku tidak berani bilang karena aku takut kakak marah dan tidak percaya, aku takut ditampar kayak waktu itu. Asyiik… besok aku ke Paris sama mama dan papa, tapi kakak tidak ikut karena lagi ujian, tapi aku janji akan beliin oleh-oleh yang buaaaanyak untuk kakak. Aku ingin kakak juga bahagia…”
Air mataku mengalir deras, kapalaku seperti terhantam ombak. Ya Tuhan, bagaimana selama ini aku menyia-nyiakan adik kandungku. Kecintaannya kepadaku yang mendalam malah kubalas dengan kebencian yang membara. Kado itu, baju pesta itu, dan tamparan yang merupakan puncak kekecewaanku, rahasia tentang Indra…..BODOH!!! Kamu adalah manusia yang paling kejam di dunia, Aurora. Adik yang bagaikan malaikat itu telah kau sakiti hatinya! Telah kau robek perasaannya! Adik yang selalu mengingatmu dan selalu berusaha untuk membahagiakanmu, malah kau tindas! Aku kembali teringat dengan tamparan itu. Aku menamparnya dengan sangat keras, sampai pipinya benar-benar merah, tapi ia hanya tersenyum dan bilang “Terima kasih, Kak.”
Ya Tuhan, izinkan aku untuk menebus dosa dan kesalahanku. Tapi….semua itu terlambat. Tepat pukul 23.00 WIB malam itu, pihak rumah sakit meneleponku dan mengabarkan Tita telah pergi untuk selama-lamanya.
Sekarang aku sendiri, hanya sendiri. Permohonan bodohku agar Tuhan mengambil nyawa adikku benar-benar terkabul. Seminggu setelah pemakaman Tita, aku kembali ke rumah sakit untuk menemui Rara, tapi pihak tumah sakit mengatakan bahwa Rara telah meninggal semingu yang lalu. Ia terlindas truk, karena pada saat menyeberang, penyakit gloukoma yang selama ini dideritannya telah menyebabkan kebutaan yang mendadak, sehingga ia tak mampu melihat saat ada truk yang melintas. Rara adalah gadis kecil yang selama ini dirawat oleh pihak rumah sakit. Dulu, Rara ditemukan di sebuah selokan karena dibuang oleh ibu kandungnya sendiri.
Dua orang gadis kecil yang telah mengajariku arti kehidupan dan memberikan cinta kepadaku, kini telah pergi untuk selamanya. Hanya penyesalan yang tersisa, tapi itu menjadi pelajaran yang amat berarti untuk masa depanku. Merakalah malaikat kecil yang selalu ada dan tetap aka nada untuk selamanya di dalam hatiku
Mungkin predikat anak sial yang kudeklarasikan untuk Tita memang tidak salah. Selama 15 tahun kurasakanbetapa bahagianya menjadi anak tunggal yang selalu dimanja. Orang tuaku yang merupakan pengusaha sukses selalu memberikan apapun yang kuminta. Tapi kehadiran seorang adik di tengah-tengah kami menjadikan hidupku berubah 180 derajat. Mama lebih memperhatikan Tita, dan menyuruhku selalu mengalah. Tidak hanya itu, kedua orang tuaku pun selalu membelanya meskipun jelas-jelas Tita-lah yang bersalah. Ibarat putri raja yang seketika menjadi anak tiri. Menyebalkan !!! Kebencian itu sudah kupupuk semenjak mama dinyatakan positif hamil. Dan setiap hari hanya stress yang aku rasakan bila sudah berada di dalam rumah, karena tidak ada sedetik pun yang terlewat bahi Tita untuk tidak mengganguku.
Kejadian kecelakaan itu tidak membuat setitik pun rasa iba, bahkan kebencianku semakin memuncak padanya. Dialah yang merebut kebahagiaanku, dan dialah yang telah merenggut nyawa kedua orang tuaku. Kejadian itu benar-benar membawa kesialan bagi kehidupan pribadiku. Aku sudah tidak ada waktu lagi untuk jalan dengan teman-temanku. Bahkan Indra, pacarku, memutuskan hubungan kami hanya karena aku terlalu sibuk dengan Tita. Selama sebulan di rumah sakit, aku baru menjenguk Tita 3 kali, itupun hanya untuk mengurus administrasi dan sekerdar formalitas di depan dokter saja.
Hari ini aku menjengik Tita. Gadis kecil yang diperlengkapi dengan selang dan alat bantu kehidupannya lainnya itu, terbaring di ruang ICU yang cukup luas dan bernuansa putih-putih. Saat melihat wajah itu hatiku selalu menjerit, “Dasar Pembunuh!! Kenapa kamu tidak mati saja sekalian! Anak sial, kamu tidak hanya merebut mama dan papa tapi teman-teman saya, Indra, dan semua kebebasan saya!!” tak terasa air mata mengalir di pipiku, bukan air mata kesedihan, tapi jelas air mata kebencian. Kenapa Tuhan tidak mencabut nyawanya saja sekalian. Kehidupannya hanya akan menjadi beban seumur hidupku!!
Tak kuasa menahan tangis, akhirnya aku keluar menuju taman rumah sakit dan duduk di salah satu bangku taman yang terlindung sengatan matahari oleh sebuah pohon yang rindang. Dan di situlah air mataku mengalir deras. Tiba-tiba kusadari ada gadis kecil dengan rambut dikuncir dua sedang memperhatikanku. Seketika itu pula aku teringat Tita, dan kebencian itu mendidihkan darahku kembali.
“Ngapain sih? Tidak ada kerjaan apa ngeliatin orang nangis. Anak kecil kayak kamu bukannya sekolah malah main-main di rumah sakit!” bentakku.
Yang dibentak hanya tersenyum.
“Namaku Rara, kakak siapa?”
“Yee… nih anak bukannya pergi. Udah deh, kakak lagi stress, jangan bikin kepala kakak jadi mumet.”
“Semua orang yang ke rumah sakit pasti mumet, tapi itulah hidup, kadang sehat, kadang sakit. Orang suka lupa sama tuhan kalau lagi sehat, tapi kalau sakit, apalagi deket-deket mau meninggal, eh bukannya taubat malah nyalahin Tuhan, kok tuhan ngasih cobaan seberat ini,” jawabnya yang membuatku melongo.
“Ih, dasar anak kecil sok tahu!!”
“Aku tahu, adik kakak sedang koma ya”
“Gak usah dibahas deh!! Gara-gara dia, mama dan papa meninggal.”
“Dia beruntung karena dia masih punya kakak. Aku juga sakit. Suatu saat nanti Tuhan akan mengambil penglihatanku, tapi aku yakin Tuhan akan membantu dalam kebutaanku karena Dia selalu adil pada semua orang, dan tidak akan membiarkan seorangpun mendapat cobaan yang tidak bias ditanggungnya.”
***
Kejadian hari itu benar-benar telah membuka mata hatiku. Seorang anak kecil telah mengajarkanku arti kehidupan. Ia benar, Tita hanya tinggal memilikiku. Aku tak pernah membayangkan bagaimana perasaannya saat ia tahu mama dan papa telah meninggal.
Entah mengapa akhir-akhir ini aku malah merindukan kehadiran Tita. Rumah ini benar-benar sepi tanpa canda dan kata-kata polosnya yang selalu membuat mama terpingkal-pingkal. Kulangkahkan kakiku ke kamar Tita di lantai atas. Kamar yang bernuansa pink, gambar kartun dimana-mana. Kamar yang tak pernah kudatangi sejak tragedi itu.
Tiba tiba mataku menangkap sebuah buku harian bergambar mickey mouse. Kubuka lembar demi lembar. Tak kusangka gadis berusia 7 tahun itu menulis segalanya tentang diriku.
“Kak Aurora adalah kakak paling cantik di dunia. Aku sayang padanya, amat cinta padanya. Aku hanya ingin kakak bahagia, aku ingin seperti teman-teman, aku ingin kakak mengajakku jalan-jalan, aku ingin kakak mengajariku matematika, karena dia sangat pintar. Tapi kok kakak tak pernah mau ya?? Aku sedih. Aku pernah Tanya sama mama apa kakak membenciku, tapi kata mama kakak sangat saying padaku, dia Cuma tidak enak badan, makanya malas ngomong sama aku. Aku suka ngejailin kakak, karena aku mau main sama kakak, tapi aku sedih karena kakak menampar mukaku. Aku tidak bilang sama papa, takut kakak dimarahi, dan nanti malah membenciku. Aku nangis semalaman saat kakak membuang kado ulang tahun yang aku kasih, padahal aku membeli kado itu dengan uang jajan yang aku tabung selama seminggu, sampai-sampai aku lapar karena tidak bisa jajan. Kakak,marah-marah waktu baju pestanya bolong. Tadinya aku Cuma ingin menyetrika baju itu biar tidak kusut, tapi pas lagi nyetrika, aku dipanggil mama, eh aku lupa, bajunya jadi bolong, terus aku dimarahin abis-abisan deh.
Diari, aku punya rahasia besar!! Kakak kan punya pacar namanya Indra, tapi aku tidak suka sama dia!! Aku tau dia punya pacar lain, kak veronica, sahabat kak Aurora. Aku pernah liat meraka mesra-mesraan waktu aku nganterin mama ke mall. Tapi aku tidak berani bilang karena aku takut kakak marah dan tidak percaya, aku takut ditampar kayak waktu itu. Asyiik… besok aku ke Paris sama mama dan papa, tapi kakak tidak ikut karena lagi ujian, tapi aku janji akan beliin oleh-oleh yang buaaaanyak untuk kakak. Aku ingin kakak juga bahagia…”
Air mataku mengalir deras, kapalaku seperti terhantam ombak. Ya Tuhan, bagaimana selama ini aku menyia-nyiakan adik kandungku. Kecintaannya kepadaku yang mendalam malah kubalas dengan kebencian yang membara. Kado itu, baju pesta itu, dan tamparan yang merupakan puncak kekecewaanku, rahasia tentang Indra…..BODOH!!! Kamu adalah manusia yang paling kejam di dunia, Aurora. Adik yang bagaikan malaikat itu telah kau sakiti hatinya! Telah kau robek perasaannya! Adik yang selalu mengingatmu dan selalu berusaha untuk membahagiakanmu, malah kau tindas! Aku kembali teringat dengan tamparan itu. Aku menamparnya dengan sangat keras, sampai pipinya benar-benar merah, tapi ia hanya tersenyum dan bilang “Terima kasih, Kak.”
Ya Tuhan, izinkan aku untuk menebus dosa dan kesalahanku. Tapi….semua itu terlambat. Tepat pukul 23.00 WIB malam itu, pihak rumah sakit meneleponku dan mengabarkan Tita telah pergi untuk selama-lamanya.
Sekarang aku sendiri, hanya sendiri. Permohonan bodohku agar Tuhan mengambil nyawa adikku benar-benar terkabul. Seminggu setelah pemakaman Tita, aku kembali ke rumah sakit untuk menemui Rara, tapi pihak tumah sakit mengatakan bahwa Rara telah meninggal semingu yang lalu. Ia terlindas truk, karena pada saat menyeberang, penyakit gloukoma yang selama ini dideritannya telah menyebabkan kebutaan yang mendadak, sehingga ia tak mampu melihat saat ada truk yang melintas. Rara adalah gadis kecil yang selama ini dirawat oleh pihak rumah sakit. Dulu, Rara ditemukan di sebuah selokan karena dibuang oleh ibu kandungnya sendiri.
Dua orang gadis kecil yang telah mengajariku arti kehidupan dan memberikan cinta kepadaku, kini telah pergi untuk selamanya. Hanya penyesalan yang tersisa, tapi itu menjadi pelajaran yang amat berarti untuk masa depanku. Merakalah malaikat kecil yang selalu ada dan tetap aka nada untuk selamanya di dalam hatiku
Puisi terakhir BJ Habibie Untuk istrinya .
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
manamungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua?
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan,
calon bidadari surgaku ....
BJ.HABIBIE
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
manamungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua?
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan,
calon bidadari surgaku ....
BJ.HABIBIE
Harapan Sederhana Seorang Perempuan
Dengarlah pinta sederhanaku ini,
Sesungguhnya aku hanya ingin..
Menjadi ibu dari anak-anakmu,
Menjadi juru masak dari laparmu,
Menjadi juru pijit dari lelahmu,
Menjadi teman dari sepimu,
Menjadi pendengar dari keluh kesahmu,
Menjadi tangis dalam sedihmu,
Menjadi tawa dalam bahagiamu,
Menjadi penopang dalam rapuhmu,
Menjadi penyejuk dalam marahmu,
Menjadi makmum dalam sholatmu,
Menjadi pengamin dalam doamu,
Menjadi maaf dalam khilafmu,
Maka..
Peluklah aku dengan syahadatmu,
Hangatkan aku dengan solatmu,
Belailah aku dengan Shaum-mu,
Kecuplah aku dengan imanmu,
Naungi aku dengan Munakahat,
Karena aku cintamu,
Bukan nafsumu..
Sesungguhnya aku hanya ingin..
Menjadi ibu dari anak-anakmu,
Menjadi juru masak dari laparmu,
Menjadi juru pijit dari lelahmu,
Menjadi teman dari sepimu,
Menjadi pendengar dari keluh kesahmu,
Menjadi tangis dalam sedihmu,
Menjadi tawa dalam bahagiamu,
Menjadi penopang dalam rapuhmu,
Menjadi penyejuk dalam marahmu,
Menjadi makmum dalam sholatmu,
Menjadi pengamin dalam doamu,
Menjadi maaf dalam khilafmu,
Maka..
Peluklah aku dengan syahadatmu,
Hangatkan aku dengan solatmu,
Belailah aku dengan Shaum-mu,
Kecuplah aku dengan imanmu,
Naungi aku dengan Munakahat,
Karena aku cintamu,
Bukan nafsumu..
MENYESAL
tawa itu hadir,
senyum itu ada dalam hariku
kini hilang..
telah musnah semuanya
mafkan aku
akan kesetiaan ini
akan cinta ini
akan pengertian ini
kepadamu .
maafkan karena keterbatasanku
karena ketidak sempurnaanku
maaf jika aku pengecut
maaf atas kecerobohanku !
karena keterbatasan ini ..
penyesalan yang teramat sakit,
mungkin benar ,
semua ini salahku..
karena mencintaimu
karena aku tak pantas untuk dicintai
pergilah jika dirimu menginginkan
terbanglah bebas
kepakkan sayapmu
karena dirimu telah bebas
jangan pernah ingat luka ini lagi
semuanya terlalu sakit untuk di kenang
jadikan aku kenangan burukmu...
bunuhlah aku dari hidupmu..
seperti aku membunuhmu .
seperti saat ini..
aku ingin senyummu kembali !
seperti dulu .
aku ingin manja mu kembali !
aku ingin kau yg kukenal ..
senyum itu ada dalam hariku
kini hilang..
telah musnah semuanya
mafkan aku
akan kesetiaan ini
akan cinta ini
akan pengertian ini
kepadamu .
maafkan karena keterbatasanku
karena ketidak sempurnaanku
maaf jika aku pengecut
maaf atas kecerobohanku !
karena keterbatasan ini ..
penyesalan yang teramat sakit,
mungkin benar ,
semua ini salahku..
karena mencintaimu
karena aku tak pantas untuk dicintai
pergilah jika dirimu menginginkan
terbanglah bebas
kepakkan sayapmu
karena dirimu telah bebas
jangan pernah ingat luka ini lagi
semuanya terlalu sakit untuk di kenang
jadikan aku kenangan burukmu...
bunuhlah aku dari hidupmu..
seperti aku membunuhmu .
seperti saat ini..
aku ingin senyummu kembali !
seperti dulu .
aku ingin manja mu kembali !
aku ingin kau yg kukenal ..
Aku kangen kamu
kau tahu,
purnama ini begitu indah
walau tak seindah senyummu .
entaahlahhhh,
berapa kali aku harus yakini dirimu .
bahwa rinduku ini, merindukan mu .
mungkinkah,
kita kan slalu bersama, walau terbentang jarak antara kita... (kok malah nyani si ? )
lanjut !
tapi, kelak nanti rinduku takkan terobati.
ah, bila saja mungkin, kita sekelas lgi .
kata "Ga bisa gituuu dong !" hancurkan jiwaku.
luruhkan hatiku hingga erosi .
meluap2 hingga abrasi .
akan kucari kau nanti ke laut.
akan ku gapai kau hingga ke langit .
tpi, maaf usaha ku tak bisa merubah apa2 .
bayangmu pun tak kujumpai .
purnama ini begitu indah
walau tak seindah senyummu .
entaahlahhhh,
berapa kali aku harus yakini dirimu .
bahwa rinduku ini, merindukan mu .
mungkinkah,
kita kan slalu bersama, walau terbentang jarak antara kita... (kok malah nyani si ? )
lanjut !
tapi, kelak nanti rinduku takkan terobati.
ah, bila saja mungkin, kita sekelas lgi .
kata "Ga bisa gituuu dong !" hancurkan jiwaku.
luruhkan hatiku hingga erosi .
meluap2 hingga abrasi .
akan kucari kau nanti ke laut.
akan ku gapai kau hingga ke langit .
tpi, maaf usaha ku tak bisa merubah apa2 .
bayangmu pun tak kujumpai .
Kekasih
pagi itu
ku dekati dia
saat ku sapa hai.....
senyum dan nafas harum menerpa.
Betapa senyum itu sangat berkesan.
Senyum dari pribadi yg ku cinta.
sindir bu rini :
"heh, pagi2 uda tebar pesona !"
Aku adalah kupu-kupu , aku dan bunga adalah sepasang kekasih.
ga tau kenapa, kupu - kupu ini slalu mampir ke bunga yang sama.
setia. itu jwabanya .
lalu ia tersenyum ,
dan melambaikan kelopak jiwanya padaku....
Kupu-kupu bersayap yang oleh cinta tidak diberi kekuatan,
tapi, dapat terbang .. hinggap selamanya . :)
ku dekati dia
saat ku sapa hai.....
senyum dan nafas harum menerpa.
Betapa senyum itu sangat berkesan.
Senyum dari pribadi yg ku cinta.
sindir bu rini :
"heh, pagi2 uda tebar pesona !"
Aku adalah kupu-kupu , aku dan bunga adalah sepasang kekasih.
ga tau kenapa, kupu - kupu ini slalu mampir ke bunga yang sama.
setia. itu jwabanya .
lalu ia tersenyum ,
dan melambaikan kelopak jiwanya padaku....
Kupu-kupu bersayap yang oleh cinta tidak diberi kekuatan,
tapi, dapat terbang .. hinggap selamanya . :)
Ayah
Waktu memang tak akrab
denganku dan ayah
tapi di dalam buku gambarku
tak pernah ada duka atau badai
hanya sederet sketsa
tentang aku, ayah dan tawa
yang selalu bersama
ayahanda tercinta
aku putramu menangis kecewa
ayahanda,aku terdampar bukan main
di tepi murka padamu dan pada Tuhanku
ayahanda, rinduku kan ku tuang
jika malamku bertabur bintang
saat kau dekap aku dalam pangkuanmu
kau bisikan kalimat indah sang pujangga
aku ingat, kala itu
aku ingat semuanya
tapi, nasi sudah menjadi bubur
slamat tinggal ayah ...
denganku dan ayah
tapi di dalam buku gambarku
tak pernah ada duka atau badai
hanya sederet sketsa
tentang aku, ayah dan tawa
yang selalu bersama
ayahanda tercinta
aku putramu menangis kecewa
ayahanda,aku terdampar bukan main
di tepi murka padamu dan pada Tuhanku
ayahanda, rinduku kan ku tuang
jika malamku bertabur bintang
saat kau dekap aku dalam pangkuanmu
kau bisikan kalimat indah sang pujangga
aku ingat, kala itu
aku ingat semuanya
tapi, nasi sudah menjadi bubur
slamat tinggal ayah ...
Status facebook
Beberapa waktu lalu sebuah “status” di situs facebook kurang lebih menyatakan bahwa kesuksesan berasal dari 99% kerja keras dan 1% adalah keberuntungan. Pernyataan ini cukup mengernyitkan dahi saya bahkan sampai sekarang, mengapa? Jangan tanyakan soal kerja keras kepada mereka, mereka berikan lebih dari sekedar kerja keras bahkan bila hari lebih dari 24 jam bisa jadi mereka akan berikan semua waktunya untuk bekerja sangat keras. Tapi mengapa kehidupan mereka tak kunjung beranjak lebih baik? Apakah faktor yang hanya 1% benar-benar sangat menentukan kesuksesan seseorang. Jika begitu untuk apa 99% kerja keras karena dengan 1% keberuntungan saja kita bisa sukses? Saya belum mendapat jawabnya.
mereka = orang susah yang tak kunjung sukses .
mereka = orang susah yang tak kunjung sukses .
Harapan Sederhana Seorang cowok
Carilah seorang pria yang memanggil mu cantik, bukan yang lain .
Yang menelepon kembali ketika kamu menutup telpon
Yang mau tiduran di bawah bintang dan mendengar detak jantungmu
Atau mau tetap terbangun untuk melihatmu tidur
Tunggulah seorang laki-laki yang mencium dahimu
Yang mau memamerkan dirimu pada dunia ketika kamu sedang keringetan
Yang menggenggam tanganmu di depan teman-temannya
Yang menganggap kamu tetap cantik tanpa riasan
Seseorang yang selalu mengingatkan kamu, betapa besar kepeduliannya padamu
dan betapa beruntungnya dia memilikimu
Seseorang yang berkata pada temannya: dialah orangnya…
P.S : i love you
Yang menelepon kembali ketika kamu menutup telpon
Yang mau tiduran di bawah bintang dan mendengar detak jantungmu
Atau mau tetap terbangun untuk melihatmu tidur
Tunggulah seorang laki-laki yang mencium dahimu
Yang mau memamerkan dirimu pada dunia ketika kamu sedang keringetan
Yang menggenggam tanganmu di depan teman-temannya
Yang menganggap kamu tetap cantik tanpa riasan
Seseorang yang selalu mengingatkan kamu, betapa besar kepeduliannya padamu
dan betapa beruntungnya dia memilikimu
Seseorang yang berkata pada temannya: dialah orangnya…
P.S : i love you
Langganan:
Komentar (Atom)





