Hidup merasa tipis.. Penyakit Kakek, merasa berat.
Umur Kakek sudah 78 tahun. Kakek dilahirkan dari keluarga tidak mampu. Ceritanya selagi masih orok diambil oleh saudara buyut karena saudara buyut itu enggan punya anak, namanya Mak Dilem.
Namanya anak kecil hidup tidak seperti anak sekarang. Pakaian compang-camping bahkan sudah besar umur 6 tahun masih telanjang, karena waktu itu jaman penjajah dan anak kampung, susah pakaian. Sehingga laksana umur 6 tahun 1936 ingin jadi orang. Makan pagi sore tidak, makan pagi sore tidak. Makan seadanya, apakah itu bubur, apakah itu daun-daunan dari kebun, daun singkong dari sawah dan daun genjer. Adanya makanan hanya singkong, itupun kalau ada. Tidak seperti sekarang banyak roti dan lain-lain. Menderita terus sehingga 1942 yaitu jaman Jepang. Jaman itu banyak orang mati kelaparan, pakaian orang pakai karung. Kakek pada waktu itu cari hidup umur 7-8 tahun, cari daun pembungkus belanjaan bawa ke pasar, dijual atau ditukar dengan makanan. Dengan bahasa sekarang "gembel". Maklum jaman-jaman penjajah. Sekarang jaman modern sudah banyak barang impor dan produksi dalam negeri.
Maka dari itu anak, cucuku dan buyutku hidup jangan seperti Kakek, hidup jangan seperti Kakek, dengan kata lain "gembel". Jaman sekarang harus banyak belajar cari ilmu dunia dan akhirat untuk bekal hidup dihari tua. Alhamdulillah Allah melindungi sampai umur 78 tahun. Tahun 1942 hijrah ke Jakarta. Emak jadi pembantu rumah tangga, Kakk pesuruh dirumah China. berliku-liku hidup dijalani oleh Kakek.
Tahun 1952 kawin dengan Emak. Itu tidak kurang menderitanya mengurus anak dengan Emak, itu juga tidak kurang menderitanya. Mengurus anak, Kakek dan Emak supaya anak jangan seperti Kakek diatas.
Alhamdulillah 1974, Mimah sudah bekerja. Bantu Kaek dan Emak kasih makan adik dan pendidikannya. Alhamdulillah sekarang tidur tidak kebocoran dan tidak dingin lagi. Dulu atap rumah dari kirai dan pagar bilik bambu.
Untuk kalian, hikayat seharga tangan kanan Kakek