Tidak jelas memang arti dari Rizky Zulkarnaen beserta asal usulnya. Orang tuaku hanya memberikan nama yang indah untukku dengan harapan serupa dengan akhlaknya kelak. Sepertinya itu merupakan sebuah harapan yang semestinya sudah tercapai, tetapi tanpa disadari kenyataan memberikan jawaban lain. Aku masih tetap dalam keangkuhanku, seekor angsa yang nakal, mempunyai beribu kemauan sembari berjalan di ambang dunia.
Pernah sekali ku berpikir, mengapa aku harus dilahirkan?
Jadi apakah?
Ayahku pernah bilang. Sekarang memang belum kau temukan jawabannya nak.. Hidup ini sama halnya dengan potongan-potongan puzzle. Terlebih dahulu kau harus mencari potongan yang hilang, setelah itu baru menyusunnya. Dan ketika semuanya tersusun, disitulah letak semua jawabanmu. Hanya saja, jarang orang orang cerdas didunia ini yang mau berpikir untuk menyusun potongan tersebut bahkan melanjutkannya.
Kata kata itu tetap saja tidak menolongku. Bahkan, malah memperbesar tanda tanya yang mengerumuni otakku. Haha, aku malas. Kenapa hidup ini malah menjadi teka teki?
Dilahirkan di Jakarta, 1 Maret 1996. Bertempat tinggal di Jakarta Pusat, Perumahan Kali Pasir, Gg Tembok yang tak ku ingat RT/RW nya. Seperti yang dunia ini ketahui, tak bisa kugambarkan betapa kumuhnya, padat, dan joroknya saluran air di perumahan rakyat Jakarta Pusat. Pergaulan yang tidak jelas seperti anak kecil mengamen dan menyemir sepatu di tiap sudut kota, remaja merokok melancong hingga larut malam, rok ketat + mini bagi kaum hawa, damainya narkoba, dan belum lagi tawuran dengan kampung sebrang. Buruknya, kusadari baru baru ini akan masa lalu tempat tinggal ku dulu.
Itu dari luar, belum dari dalam. Pertengkaran ayah dan ibu sudah merupakan teman minum kopi atau perasa teh di pagi hari. Ayah yang seorang emosional dan ibu yang tidak pengertian, kadang menambah parah suasana. Pernah sekali aku melihat ayah menghantam ibu dengan kepalan tangannya sendiri hingga darah membekas ditangannya. Tak ada yang bisa dilakukan oleh bocah berumur 5 tahun saat itu. Mungkin hanya menangis, berlari sekuat tenaga keluar dari rumah mencari tempat kosong lalu berteriak?
Hidup kami bisa dibilang sederhana. Walaupun dalam kenyataannya ayah yang dulu pengangguran dan beban keluarga hanya ditanggung ibu seorang. Tetapi Tuhan masih terus memberikan kasih sayangnya kepada kami walaupun tak lebih. Asal cukup itu pun sudah membuat ibu tersenyum bukan main manisnya."Yang penting masih bisa ketemu nasi" kalimat itulah yang sekarang masih saja membuatku menangis dalam solatku. Perkataan tulus yang hanya segelintir orang mau dan mampu mengucapkannya. Mana mungkin aku mau sengsara padahal kecenderunganku bermewah-mewahan? tapi ibu ajarkan aku kesederhanaan.. Ibu ajarkan aku arti bahagia sehingga mampu membuatku tegar seperti ini.
--
Manisnya, setelah lulus TK ayah dan ibu memutuskan untuk pindah ke Bogor yang berakibat mengubah pola pikirku akan kehidupan. Suasana asri pedesaan, tawa gembira anak anak, gemericik air sungai, kerja bakti, kicau burung di pagi hari, merdunya suara shalawat anak anak menjelang adzan magrib membuat semuanya berubah. Tak ada ragu, hanya dalam waktu seminggu aku menjadi tahu banyak mengenai Desa Pemagarsari, Gg H Minggu, Kecamatan Parung - Kabupaten Bogor.
Pagi itu merupakan hari pertama masuk ke sekolah. Ayah berkata kepadaku, "Janganlah menjadi orang pertama yang mengeluh ketika lampu itu mati. Tapi jadilah orang pertama yang bergegas pergi mengambil lilin lalu menyalakannya". kata kata itu perlahan kutulis sesampainya disekolah, ku baca, kupahami, dan hasilnya aku tidak mengerti. Tak kumengerti sedikitpun tapi itu tertulis, tersurat tegas dipikiranku.
--
"Aku harus dapet rangking buat ayah sama ibu!"
Kata kata sederhana yang justru mampu membiusku untuk membuka buku, menghiraukan sorak sorai temanku mengajak bermain kelereng. Dan hasilnya? Lumayan. Aku menduduki peringkat 3 dikelas 1 sampai dengan kelas 3. Dan mengalami kemajuan di 3 tahun berikutnya. Yaitu rangking 2 di kelas 4 hingga kelas 6.
Juara 1 lomba Takhfidz Al Quran tingkat SD se-Kota Bogor, Juara III lomba cepat tepat tingkat Kabupaten Bogor, dan tidak lupa.. Mendali perunggu kejuaran pencak silat.
Sempat mengalami krisis percaya diri ketika semua teman mengejekku dengan julukan "kutil" karna ada sebuah tahi lalat manis yang menetap dihidung. Berkelahi juga karna hal tersebut. Pernah membuat dua ibu guru menangis karna kenakalan yang kuperbuat. Meskipun melibatkan teman teman yang lain, tetapi akulah orang dibalik semua itu. hehe maaf ya bu guru...
Sempat Farhan sahabat karib lama semasa SD berkata padaku di reunian kemarin, "Kaulah yang dulu selalu menjadi sesosok pemimpin dari teman teman yang lain. Buktinya semua anak selalu mengikuti kemana kamu hendak pergi, menuruti keputusan yang kamu buat dan masih banyak lagi?" kira kira seperti itulah kalimat yang farhan ucapkan sembari meleletkan lidah nya di akhir kalimat.
Meskipun pada akhirnya aku menyadari bahwa itu memang benar, tapi.. yaa.. itu tetap saja merupakan penilaian orang lain yang belum tentu benar adanya. Karna kembali pada diriku. Hanya sesosok bocah lelaki tengil yang bahkan terkadang tidak sopan.
--
6 tahun berlalu dan tibalah masa awal berhadapan dengan pubertas. Yap, saatnya naik kelas ke SMP. Lolos seleksi nem dan akhirnya masuk SMP Negeri 6 Bogor. Disinilah cerita baru akan dimulai..
Tak terlalu banyak cerita yang bisa kuceritakan pada masa awal kelas 1 SMP. Mungkin hanya tentang cinta pandangan pertama dan kisah kecil persahabatan. Mengikuti eskul PASKIBRA PRAJAMUKTI dan OSIS/MPK juga hanya ikut ikutan dan tidak pernah serius.
Masuk ke kelas 2 dengan nilai yang cukup menggembirakan, mendapat peringkat 2 dikelas dan akhirnya masuk ke kelas unggulan. 8A..
Sempat berontak dalam hati ketika ternyata ada pengelompokkan kelas. Antara senang karena termasuk kategori anak yang cukup pintar, sedih karna merasa tidak adil. "Bagaimana negara kita mau maju apabila masih dikelompokkan mana anak yang pintar dan yang kurang? Hasilnya malah kelompok pintar akan semakin pintar, dan kelompok yang kurang pintar akan semakin terjerumus. That's useless. even make it all worse" teriakku dalam hati. Tapi apa yang bisa kuperbuat kala itu karna mengacungkan tangan saja pun belum mempunyai keberanian yang cukup?
Anneke Desmayanto Putri. Dialah orang yang gemar akan pelajaran biologi dan juga mahir pastinya. Merupakan sahabat karib yang pertama kali mengenalkanku akan ilmu tentang mahluk hidup. Orang yang membuatku iri setengah mati ketika dia bisa menjawab semua pertanyaan dari guru biologi saat pelajaran IPA. Orang yang memaksaku untuk menjadi lebih hebat darinya. Lucu, dan memang aslinya sebelum ketemu juga udah gak waras.
Haha, mungkin memang dialah sesosok teman yang memberi petunjuk akan jati diriku. Karna terus mengikuti langkahnya, akhirnya aku berhasil terpilih menjadi anggota tim inti lomba sains di SMP. Sampai akhirnya, sedikit demi sedikit aku menyainginya bahkan pernah membantah jawaban yang dia ucapkan ke Bu Rini. Karna memang salah jawaban yang diberikan oleh Anne. Anehnya Bu Rini malah tetap mempercayai jawaban Anne, dan tidak menghiraukan protes yang kuteriakkan. Sampai pada akhirnya saat itu juga ku acak-acak, ku obrak abrik isi tasku dan JACKPOT! kuberikan buku Biologi andalanku untuk membuktikan bahwa jawabanku benar.
Wali kelasku waktu SMP pernah mengatakan, tips sukses belajar itu.. Ketika kalian sampai dirumah, langsunglah beristirahat. Setelah itu belajar diwaktu sore mengulang apa yang sudah dipelajari hari ini. Malamnya, belajar lagi untuk mempersiapkan pelajaran yang dipelajari hari esok. Sempat aku mencobanya dan sama sekali tidak cocok karena pada kenyataannya aku lebih sering pulang sore hari bermain dengan teman teman. Sampai pada akhirnya terbesit dipikiranku untuk mengambil saran tersebut tetapi mengganti jam belajarnya. Karna pada saat itu aku sangat berkeinginan mengalahkan Anne, malam hari aku belajar dari jam 7 sampai jam 10 lalu tidur. Bangun lagi tepat jam 2 dan belajar sampai dengan jam 4. Setelah itu tidur lagi dan bangun jam setengah 6. Hasilnya? Efektif. Aku bisa mengejar kemampuan Anne bahkan bisa dibilang satu langkah lebih unggul daripada dia. Tetapi, ada juga sisi negatifnya. Jam tidurku berganti jadi siang hari. Disekolah mataku sering terlihat merah dan sering sekali terlelap saat guru menerangkan. Untungnya, hanya disuruh berdiri didepan kelas sambil mengangkat satu kaki 15 menit didepan kelas. Ditertawakan. tapi.. aku tidak terlalu memperdulikan karna yang penting bisa mengalahkan Anne.
Masuk ke kelas 3 SMP. Saat saat yang menurutku merupakan konflik terbesar didalam cerita hidup selama ini. Bersiap siaplah untuk tragedi yang satu ini ...
Hidupku sempat membaik ketika ayah bekerja sebagai satpam/security di mall Roxy, Grogol, Jakarta Pusat. Dengan kerja keras ayah, walaupun hanya menjabat sebagai staf keamanan, ayah mampu membangun rumah yang cukup bagus untuk kami. Sempat aku berpikir, inilah keluarga yang harmonis. Sejak keadaan ekonomi kami mebaik, tak terlihat dan terdengar lagi suara mereka bertengkar, mengejek satu sama lain? Terima kasih Tuhan, mun gkin inilah yang dinamakan keadilanmu. Ketika pahit dan perih kami lalui, akahirnya kau tetap memberikan kami udara segar untuk bernapas.
Tetapi rupanya itu semua tidak berlangsung lama ..
Setelah diberhentikan menjadi satpam karena berkelahi dengan pelanggan sebuah bank asing, ayah stres berat dan lagi lagi mulai menampakkan keaslian dirinya. Dia lebih sering marah marah walau hanya dikarenakan masalah/hal sepele. Tapi, yaa... Itulah ayah. Jika bukan seperti itu, dia bukanlah ayah yang kukenal.
Sekarang giliran ibu untuk memperbaiki semuanya. Memutar otak, membanting tulang, bekerja siang malam untuk menutupi segala kekurangan. Bahkan mungkin, jika waktu satu hari di dunia ini lebih dari 24 jam, ibu rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk tetap membuat kami semua tersenyum.
Sampai pada akhirnya, Tuhan membuka matanya untuk kami. Berkat kerja keras ibu dan doaku, adik dan ayah.. Ayah berhasil membuka usaha rental mobil dirumah. Tetapi, siapa yang tahu jikalau itulah yang membawa malapetaka bagi keluarga kami..
Usaha rental kami semakin maju. Bahkan sampai sampai ayah mempunyai 3 mobil mewah avanza. Percaya atau tidak, akupun sudah mahir mengendarai mobil yang dahulu hanya mimpi belaka. Tanpa disadari, itulah yang membuat ayah lupa daratan. Ayah lebih sering pulang larut malam dan tidak memberi kabar apapun kepada ibu.
Ya.. seperti itulah. Seharum harumnya bau bangkai, pasti akan tercium juga. Terlena dalam kemewahan, merasa mempunyai kelebihan "ada" dalam diri ayah, menstimulus ayah untuk melakukan perselingkuhan. Bagai disambar petir rasanya ketika semua itu terungkap. Kalimat pesan di ponsel ayah menjelaskan kepada kami bahwa memang benar ada orang lain selain ibu.
Tentu saja ibu tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Ia berontak, menangis, mencari orang dibalik semua ini, mencemooh habis habisan orang tersebut hingga urat diwajahnya membengkak. Menyeramkan memang.
Pernah sekali ibu mengajakku untuk bersama memergoki ayah dikediamannya bersama selingkuhannya. Sesampainya disana, terdapat mobil avanza hitam terparkir rapih di depan sebuah kontrakan tua jelek. Ya.. itu mobil ayah. Tapi apa ibu yakin ini tempatnya?
Berulang kali ibu memaksaku masuk kedalam kontrakan itu tetapi aku selalu menolaknya. Meskipun aku anak mereka, bagaimana mungkin aku mau dilibatkan? Skalipun kuberanikan diri untuk masuk, apa yang akan kukatakan? Menyuruhnya untuk pulang? Bagaimana jika ia kembali menutup pintu dan tidak menghiraukanku? Oh Tuhan! Jujur aku lemah dan hilang arah.
Akhirnya ibu menegerti apa yang kurasakan setelah aku meneteskan air mata didepannya. Usai menghapus air mataku, sendirian ibu bergegas pergi masuk. Tidak sampai 1 menit, ibu kembali lagi. Matanya merah dan tangannya mengepal. "Ayo kita pulang!" seru ibu sambil mengambil beberapa buah serpihan kerakal yang lumayan besar. "Untuk apa itu bu?" tanyaku perlahan.
Ibu hanya berteriak keras, kali ini suara teriakannya sedikit berbeda. Betul, dia menahan tangisannya. Dia berkata, "sudah cepat jalan dan berhenti sebentar didepan kontrakan!"
"Gumpraaaangggg..!!!"
Benar saja. Ibu melempar batu itu sekuat tenaga tepat dijendela kontrakan. Kutancap gas sekuat mungkin karena aku tak berharap ada lemparan selanjutnya. Ibu membuang semua batu yang ada dikedua tangannya, lalu memelukku erat. Sangat erat. Pelukan keras itu menggambarkan betapa hancur perasaannya, aku tahu itu. Disepanjang jalan dia hanya berteriak dalam tangisan berkata tidak mungkin. Tak sanggup ku mendengarnya, aku pun ikut menangis. Bodoh..
Terkadang ku berpikir, tak perlulah ayah pulang lagi. Karna kedatangangannya hanya membuat pertengkaran.
We're overboard. We cant lie, we need you here dad! What we're gonna do when the best part of us was always you?
--
Aku bukan hendak mengeluh
Tapi rasanya terlalu tajam pisau yang kau gores
Kau bilang, tak ada manusia yang adil.
Lantas, kenapa kaulakukan perselingkuhan ini jika kau tidak bisa adil?
Ayah, kau terlalu jahat. Picik!
Kau hanya bisa rampas, ambil, tanpa memberi sedikitpun
Dan yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa tak ada lagi rasa pedulimu,
Hilang sudah. Musnah!
Kau akan selalu memilih dia.
Kau bukan lelaki.
Teriakan kalian bu, yah.. slalu terdengar disetiap sudut.
...
Bu, aku tau keadaan hatimu bu.
Hancur, hancur berkeping-keping.
Mungkin kau bisa gila?
Tp, kita bisa lewati ini.
Mulai esok,
aku akan cari obatnya.
Akan kulakukan apapun...
Especially for my mom
By : Rizky Zulkarnaen
Mungkin hanya sederet puisi diatas yang dapat membendung kecemasan meskipun meluapkan tangisanku. Sedikit pelukan hangat ketika ibu menangis merupakan obat yang paling manjur..
--
Sampai pada akhirnya , musibah menimpa ayah. Satu persatu mobil rental ditarik oleh sorum karena ayah yang lalai tidak terlalu memikirkan pekerjaan. Kabar terakhir yang didengar ternyata satu mobil yang tersisa dicuri oleh pelanggan. Alasan itulah yang membuat ayah kembali kerumah untuk meminta bantuan ibu mencari mobil itu bersama.
Seminggu berlalu dan mobil berhasil di lacak oleh polisi. Desa Meruyung, Lombok, Mataram disitulah tempatnya. Tanpa pikir panjang, ayah, ibu, beserta 2 orang polisi berangkat ke Lombok saat itu juga karna takut mobil keburu pindah tempat lagi.
3 hari berlalu, dan sampailah mereka disana. Melakukan pencarian selama dua hari dan BINGO! Mobil berhasil ditemukan. Tak perlu kaget, kalap menggelegak bagai harimau haus darah ayah melabrak habis habisan si pencuri sial itu, menghantam, menampar, menjotos dan menendangnya. Si pelaku terpelanting kian kemari. Mukanya sembap, giginya rontok dan disekujur badannya darah berbencah bencah.
Akan tetapi, ayah yang makin menggila itu belum juga merasa puas. Ia terus menghardik disertai tamparan, membentak disusul jotosan diselingi sepak terjang. Pencuri itu sempoyongan terhuyung huyung kesana kemari. Hanya teriakan stop dari kedua polisi yang membuat ayah berhenti memukul ketika mereka berdua terlambat datang.
Mobil sudah ditemukan dan pelaku dibawa ke pengadilan. Sadisnya, saat mobil itu didapat ayah malah langsung mengabarkan selingkuhannya akan berita gembira tersebut. Berbicara langsung menggunakan ponsel saat kembali ke Bogor dan tahukah kalian? Ayah persis melakukan itu semua disamping ibu karena memang ibulah orang yang duduk tepat disamping ayah didalam mobil itu ketika diperjalanan pulang.
Bibirnya bergetar, air matanya tak bisa dibendung, tangannya mengepal keras sambil membuang muka melihat keluar jendela. Sesekali ia melihat langit berharap jikalau ini semua hanya mimpi dan sebentar lagi ibu akan terbangun dari tidurnya.
Dasar tidak tahu terimakasih!!! Kalimat itulah yang pertama kali keluar dari mulutku ketika ibu menceritakan semuanya, sepulang dari Lombok.
--
Siapa yang sangka, akibat perbuatan ayah, entah apa yang terjadi di pengadilan, keluarga pelaku menuntut atas apa yang telah ayah perbuat. Dan diterima oleh hakim pengadilan. Mereka menilai tidaklah perlu menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan permasalahan. Walaupun posisi si pelaku menjadi pencuri, tetap saja tuntutan berlaku untuk ayah. Di ujung cerita, ayah dikenakan ancaman 5 tahun penjara.
Rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Lagi lagi hanya sederet puisi yang kucoba tulis untuk mensketsa bagaimana rasanya saat itu.
Ayah
denganku dan ayah
tapi di dalam buku gambarku
tak pernah ada duka atau badai
hanya sederet sketsa
tentang aku, ayah dan tawa
yang selalu bersama
ayahanda tercinta
aku putramu menangis kecewa
ayahanda,aku terdampar bukan main
di tepi murka padamu dan pada Tuhanku
ayahanda, rinduku kan ku tuang
jika malamku bertabur bintang
saat kau dekap aku dalam pangkuanmu
kau bisikan kalimat indah sang pujangga
aku ingat, kala itu
aku ingat semuanya
(posting 05 Oktober 2011)
--
"Kemarin hari terakhir ayahmu dirumah nak. Sekarang dia sedang menundukkan kepalanya menggenggam jeruji besi. Apa lagi yang hendak kau berikan Tuhan?" Bisik ibu pelan, perlahan menjelaskan semuanya kepadaku.
Suci memang hatimu bu. Tak terbesit sedikitpun rasa dendam pada ayah setelah apa yang ayah lakukan kepadamu. Sambil bekerja, mondar mandir Jakarta Bogor tak lupa ibu menjenguk ayah walaupun bermodal nasi bungkus 3 ribuan untuk ayah. Karna jujur, ayah sama sekali tidak bisa menelan rasa nasi buatan penjara. Dan apabila ibu tidak menjenguk, mau tak mau ayah tidak akan makan.
Disetiap pertemuan ibu selalu memeluk tubuh ayah yang kini kurus dan membungkuk, mencium pipinya yang kini semakin kerut mencekung, megusap usap kepalanya sambil berbisik, "sabar ya yah.. Disini ibu gak akan biarin ayah kesulitan. Diluar sana juga ibu sedang mencari jalan keluar agar ayah cepat dibebaskan"
Dirumah hanya ada aku dan adik. Terkadang akupun harus memutar otak bagaimana cara menghapus kerinduan adik terhadap ayah yang pada saat itu dia belum mengetahui kalau ayah dipenjara. Hari itu berbagai cara kulakukan untuk meredam tangisannya tapi hasilnya teriakan dia semakin keras. Kubelikan ini itu, tetapi tidak berhasil. Sampai akhirnya dia berhenti menangis karena memang telah kelelahan akan tangisannya berteriak memanggil ayah.
Ketika dia terlelap, sekarang giliranku untuk menangis. Menangis tepat disamping adik sembari menghapus tetesan air mata yang tersisa dipipinya. Goblok!
--
Hari hari yang kami lalui semenjak ayah tidak dirumah semakin terasa berat. Ibu yang dulu selalu membuatkan teh manis untuk ayah tiap pagi sekarang hanya tinggal cerita. Adik yang beberapa hari ini bolos sekolah karena memang tak mempunyai ongkos sepertinya semakin menjadi hal yang biasa bagi aku dan ibu.
Tapi, tidak bagiku. Biar bagaimanapun juga, aku harus tetap sekolah walaupun hanya mempunyai ongkos untuk pergi. Bagaimana dengan ongkos untuk pulang? Biarkan sajalah. kupikirkan itu nanti.
Semenjak hari itu aku selalu menolak apabila sahabat sahabatku mengajak pergi ke kantin. karna apa yg akan kulakukan disana? bersenda gurau sambil menahan lilitan sakit perutku karna dari rumah sarapan saja pun tidak? Sudahlah, kalian pergi saja kawan. aku nanti menyusul. Mungkin hanya itu yang selalu menjadi alasan untukku menolak mereka.
--
Aku bukanlah tipe pria yang menyerah ketika musibah menimpaku. Malah terkadang, aku membuatnya menjadi motivasi terbesar dalam hidupku walaupun rasanya mustahil. Tetapi, aku membuatnya menjadi kenyataan.. Juara 1 D'COOKIES SMANDA, juara 2 LCT Biologi SMAN 6, buah kerja kerasku selama 6 bulan terakhir di SMP.
Waktu itu jadi ceritanya.. ketika membawa piala-piala kemenangan dengan senyum haru bahagia.. Ibu menyambutku dengan pelukan hangatnya berkata bahwa ia bangga padaku. Dalam hati ku berkata, ini semua kulakukan untuk menghapus luka perih hatimu walaupun hanya sedikit dan sementara. Tapi.. ya.. hanya ini yang bisa kulakukan untukmu bu. Sejujurnya, kaulah yang telah membuatku seperti ini..
Tak berniat untuk menangis, tapi tetap saja bola mataku lagi lagi tak mau membendung air mataku.
"Bu, kiki mau ketemu ayah sambil bawa piala-piala ini sebelum sekolah ambil.." pintaku perlahan ketika hendak tidur yang saat itu.. aku, adik, dan ibu tidur satu kamar karna tak ada lagi yang boleh terlihat menangis diwaktu malam. "Iya ki.. besok kamu libur kan? kita kesana bertiga" jawab ibuku tersenyum.
Tibalah saat yang kutunggu tunggu. Tak berhenti bibirku tersenyum lebar dari rumah hingga sampai ke tempat tahanan ayah. Rasanya bagaikan terbang tinggi ketempat paling indah di dunia, berdiam diri sebentar lalu memeluk bulan. Bahkan tak bisa kugambarkan betapa bahagianya saat itu lewat papan qwerty ini.
tapi ternyata...Senyum lebar dari kuping kiri dan kananku seketika menyipit datar ketika ibu menyuruhku menunggu sebentar di ruang tunggu bersama adik dan akhirnya ia kembali beberapa saat sambil berjalan tergesa gesa. Kerudungnya berantakan, keringatnya mengucur, tangan kirinya mengepal disusul tangan kanannya menekan mulut menahan isak tangis.
Aku yang melihat ia berjalan cepat kemudian tiba tiba ia berlari sekuat tenaga.. Diam seribu bahasa. Berpikir sesuatu yang tidak diinginkan baru saja terjadi. Lagi.
Lorong koridor yang sepi itu tiba tiba kukagetkan dengan teriakan kerasku melihat ibu yang seketika tersandung jatuh karna saat itu dia memakai gaun terbaiknya hanya untuk terlihat cantik lagi manis menemui ayah. "Ibuu..!!". Tanpa pikir panjang bocah lelaki ini secepat kilat berlari kencang menghampiri wanita rentan yang terjatuh dan sekarang dia menangis hebat.
Tak mampu kugambarkan betapa hebatnya tangisan ia saat itu. Mungkin kalian bisa bilang ini terlalu berlebihan? Tapi saat itu terasa bagai petir yang menggelegar diseluruh penjuru dunia. Bagai guntur badai yang bersahut sahutan ketika langit hendak mengubah warnanya menjadi kelabu. Dia merengek berteriak lagi dan lagi memekakkan telinga membuatku berniat untuk menyilet urat nadiku saat itu juga.
Kerudungnya ia tarik dan ia lempar jauh...
Mungkin, hanya pelukan kencang yang kuberikan, yang saat itu dapat sedikit meredam teriakan ibu sambil kubisikkan kalimat kecil ditelinganya, "Istigfar bu.."
Suasanan mulai menenang yang membuktikan bahwa dekapanku bekerja dengan baik walau sekarang masih tersisa isak tangis ibu menarik lendir ingusnya yang berantakan, belepotan disekitar pipi, hidung, dan mulutnya. Matanya mulai sembap, rambutnya kian acak acakan, urat kepalanya membengkak. Tragis.
"Ibu kenapa?" tanya adik perlahan ketika tangisan ibu sudah mulai tidak terdengar. Ibu menjawab..
Tak perlulah ku dikte disini apa yang ibu luapkan saat itu karena ia pun mungkin tak sadar telah mengucapkan kata kata yang seharusnya tak ia ucapkan. Yang paling kuingat hanyalah aku yang membungkam mulut ibu ditengah bahasa kotornya menjelaskan semua.
Setelah ia diam, perlahan ku genggam kedua tangan ibu sambil menatapnya dengan menorehkan senyuman kecil lalu kuremas bahunya, mengangkatnya berdiri dan terakhir menghapus air matanya.
Melangkahkan kaki keluar berjalan perlahan, membawa kembali lagi piala yang sudah kubawa, menuntun adik dan terakhir menyetop angkutan kota sesampainya di bibir gerbang Polres Cibinong. Sedikit.. Tidak! Sangat kecewa hari itu. Adik pun sudah tak berani mengatakan apapun. Sunyi bisu layaknya tembok ketika aku mengusap usap kepalanya dilanjutkan kucium keningnya dengan penuh kehangatan.
--
"hmmmhhhhh...."
Menghembuskan nafas panjang ketika baru saja berbalik badan memberikan uang pada pak supir angkot sesampainya didepan gang rumah. Kuletakkan piala piala itu diatas meja belajar dan kuberi sedikit tambahan disampingnya berupa foto ayah yang berbingkai coklat berukuran kira kira 10 x 25 cm. Kutatap baik baik piala piala itu dan kubandingkan dengan foto ayah berharap foto itu hidup dan ayah tersenyum bangga melihat apa yang telah diperbuat jantan peliharaannya yang kini ia buang jauh jauh. Ku ambil kembali gambar foto orang yang saat itu kupanggil berengsek, kuusap usap dibagian mukanya dan "crekk.." tak kuasa ku menteskan air mata dan sialnya air itu jatuh tepat difoto ayah yang membuat tangisanku semakin menggila.
Mencoba untuk jinakkan tangisan nakalku dengan cara menampar pipi sendiri, menjotos tembok lagi dan lagi sekuat tenaga.. memang itulah yang saat itu kulakukan mencoba untuk tidak tenggelam dan kembali ke kapalku. Terakhir kusingkirkan semuanya dari meja belajarku berteriak bajingan!!!
Aku menangis yah.. Ya. Aku menangis..
Dan ketika kuberhasil menjinakkan tangisanku, sekarang malah bengong menikmati suasana mentari sore yang saat itu hendak cepat cepat menenggelamkan dirinya. Mungkin hanya sisa tetesan air mata dipipi yang saat itu menjadi sahabat karibku, menemani nikmatnya suasana matahari terbenam yang sinarnya menghangatkan setengah badanku, yang kala itu kusaksikan lewat jendela kamar.
--
Pelaku utama ibu --> (aku = ibu)
Naluriku menyengat memberontak dada ketika melangkahkan kaki masuk, meninggalkan kalian berdua. Perasaanku tidak enak, tidak pula tahu apa alasannya. "Ah, tidak mungkin!" teriakku dalam hati ketika terlintas dalam pikiranku bahwa sesuatu yang buruk akan atau mungkin, sedang terjadi.
Keringat dingin mulai keluar dari tempat tempat tempat per sembunyiannya. Jantungku berdegup degup dan sialnya kaki ku pun ikut gemetar menyusuri lorong koridor sempit yang penuh jeruji besi disamping kanan dan kiri berisi pengutil, perampok, pemakai dan pemerkosa.
Sampai pada akhirnya aku pun mulai mahir menguasai pikiran negatif yang sejak tadi menari nari diatas jidatku, yang menjadikan aku bagai nelangsa setengah mati.
Tinggal beberapa langkah lagi kedepan, belok kanan, disitulah tempatnya. Menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan dan ...
...................."Zeb.."
Aku berhenti seketika, mematung, melihat bahwa naluriku tidak salah kali ini. Kepalaku menggeleng perlahan ke kanan dan ke kiri, ditemani air mata yang terjun makin deras dan semakin deras! Bibirku bergetar menahan hebatnya teriakan tangis yang jika saat itu kuluapkan, mungkin mampu memecahkan beling jendela seantero ruangan.
aku sekarat..
sekejap saja namun rasanya mampu membuatku tersentak sedemikian hebat, terdampar bukan main di tepi murkaku akan dustamu yah.
Harusnya aku yang menyuapimu makanan dengan penuh mesra! Harusnya aku yang diberikan senyum tulus yang telah lama hilang itu. Harusnya aku yang kau cium dan peluk. Harusnya aku yang kau bungkam dengan kalimat cinta pujanggamu. Harusnya aku, harusnya aku!
itulah yang terjadi ki..
(back to the story)
Malam itu ibu baru menjelaskan semua. Malam hujan deras yang menyebabkan listrik di komplek rumahku padam dan memaksaku untuk menyalakan lilin yg justru malah membuat suasana makin galau. Ibu hanya menangisi kekalahan pahit karna memang ada yg lebih baik darinya dimata ayah. Jelas jelas ayah yang brengsek, yang salah tidak bisa memegang janjinya? Tapi sekarang ibu berpikir lain. Dia malah menyalahkan dirinya sendiri karna sempat letih menjadi yang terbaik untuk ayah.
"Cepat hibur ibu ki.." teriak otakku membentak hati yang saat itu pun ikut menangis bersama ibu. Apa yang harus aku lakukan? meredam tangisan ku sendiri pun belum berhasil. Sekarang kau menyuruhku untuk menghiburnya? Persetan.
--
Life without risk is life unlived.
Mungkin inilah saat saat terberat dalam hidupku. Meskipun kenyataan memberikan jawaban lain bahwa masih banyak diluar sana yang lebih tragis hidupnya dibanding aku, kau, atau siapapun. Hal itulah yang membuatku terus berpura-pura untuk tidak menjadi orang yang paling menderita.
Aku tak bermaksud menggurui.
Tapi sebenarnya ini bukanlah tentang penderitaan didalam buku gambar seseorang belaka. Tapi bagaimana cara seseorang menghidupi kehidupannya.
--
Ibu yang semakin dirasuki oleh rasa bersalahnya, membuat Ia semakin yakin bahwa dialah orang yang paling bertanggung jawab atas apa-apa yang telah terjadi.
Tak bisa kuceritakan apa yang terjadi di ruang sidang ayah tapi satu hal yang pasti bahwa ayah mendapat keringanan masa tahanan apabila kami mampu membayar denda sebesar 10 juta, dalam jangka waktu 2 minggu.
Itu mustahil. Tidak mungkin. Tak akan pernah.
Dimana letak keadilan Tuhan?
Ada yang pernah mengatakan bahwa sesuatu yang mustahil iaalah kemustahilan itu sendiri.
Ibuku bukanlah super mother, iron mother, transmother atau apalah itu yang diberikan kekuatan untuk merubah takdir dan kemustahilan. Tapi ibuku punya satu hal yang mungkin tak dimiliki siapapun.
Ibu punya CINTA.
Kekuatan cinta yang mampu merubah semua kata 'tidak' menjadi 'ya'. Kekuatan cinta yang mampu merubah kemarau gersang menjadi angin lembut. Kekuatan cinta yang mempu membuatnya setara dengan super mother, iron mother, dan transmother. Ya. Kekuatan cinta.
Kalian pernah lihat supir angkot?
Pernah liat yang perempuan?
Kalau ya, mungkin kalian pernah bertemu ibuku. Ya. Ibu adalah salah satu dari mereka.
--
Sebelumnya, aku tidak pernah menangis untuk menuliskan ceritaku. Tapi kali ini aku menangis..
Panas matahari kala itu mencekik bukan main, menyorot setengah badan ibu. Debu jalanan yang berlarian di udara, menabrak habis-habisan wajah halus nan cantik ibu. Rambutnya yang sengaja iya potong pendek agar tampak bahwa dirinya juga jantan. Keringat sucinya yang mengucur yang kadang menyebrang ria mengarungi halis, jidat, pipi dan hidungnya. Saking panas dan letihnya, keringat itu pun sanggup menembus topi hitam yang ibu pakai.
Suaranya yang lirih berteriak jalur trayek angkot, membuat semua penumpang merinding dan bertanya-tanya "kenapa harus perempuan..?". Handuk kecil putih yang semenjak pagi ibu bawa sudah mulai kecoklatan. Tangan halusnya yang biasa dulu ia pakai untuk menghelus kepalaku kini beralih ke stir mobil kasar yang berkarat. Membuat tangannya kasar bahkan pernah berdarah. Hanya saja ibu tidak bercerita padaku. Tapi akau tahu karna sapu tangannya pernah ada tetesan darah.
Tapi dia tetap tersenyum. Dia tersenyum karna cintanya padaku, adik, dan ayah...
(@) ................buffering................. (@)